The moment that I like is when you have to laugh and smile because of me. Because of my sayings, because of my expression, and because of my body gesture. Those all make me in peace. Looking at you in happiness like I’re in your soul. I’m fine when I have to look at you in every happiness that both of us create.
Source Picture: Google.
We were sitting down on the chairs. I were in front of you. I told my dream. And you were spontaneous to be happy. You gave me a big smile and I’s blushing. That’s nice, darl? Didn’t you know? I couldn’t describe my feeling at that moment. My thought was only you and me, as well as our happiness in the evening.
And tonight, although I can’t see you, I can be sure that you must smile and laugh. Yup. Because of me. A thousand romantic words I have sent to you and you tried to send me with the same thing. And we laugh each other in different place. My heart feels like that. I feel it’s funny, the stupid thing. It looks like silly but we enjoy what we do. Why not if that can create the happiness and laugh in us?
“Love must have. That’s why there are words MISS, LOYAL, JEALOUS, and BROKEN HEART. Let’s unity our hearts and ask the every soul of us are protected from hurt. We are made to be happy in a loving relationship and loyalty. We are made to be happy in a healthy life, long life, and good prosperity. Aamiin.” (Mario Teguh)
I feel there is a big hope in us, but we must remember again, we don’t know how is the ending of our story later. I hope there will be no hurt.
@Satnite and Sunday Night in early December with happiness among you, me, and them. π
Kata orang Bulan November itu bulan yang indah. November ceria. *Eh eh eh eh… Salah. Yang benar itu, September ceria, Ning. Hufttt… -___-”
Ya terserahlah. Yang penting namanya itu. Masih berbau ceria. Β Hehehe… Katanya. Saya juga nda punya cukup bukti untuk bilang kalau November ini nih begini, begitu. Okelah. Kita lanjut. Iya. Jadi ceritanya saya lagi galau alias GG. Kata teman saya Gundah Gulana. π Wah wah. Singkatan semakin menggila. π
Untuk malam ini. Semoga saja untuk malam ini. Bukan untuk malam-malam berikutnya. Aamiin. Dan semoga saja, setelah menulis keluh kesah saya di blog tercinta cuit-cuit ini, galau saya udah pergi main jauuuuuuuuuuuhhhhh skali. Aamiin. Aamiin…
November ceria sekarang menjadi November Galau, readers. Sayang sekali, saya belum beruntung memiliki November ceria.
Sepertinya saya tidak jauh bedanya dengan ababil. Kerjaannya galau terus. Ada apa sih dengan perasaan ini? Semakin dewasa, semakin kompleks saja permasalahan. Semakin dituntut DEWASA dalam bersikap… Sekarang lagi hobby dengar lagunya Dewi-Dewi – Begitu Salah Begitu Benar. Hahaha. *GALAU Kronis…
Dan malam ini, saya membiarkan kamu pergi. Malam ini dan seterusnya saja kalau perlu. Tidak perlu kembali lagi. Saya sekarang tidak ada apa-apanya. Entah itu atas alasan pembenaran yang harus dibenarkan oleh perasaan ataupun memaksa logika untuk menerima segala pembenaran yang tercipta. Keadaan semakin runyam. Kondisi untuk membaik pun semakin sulit untuk dibina. Intensitas pertemuan kita pun yang semakin sedikit. Semua faktor yang timbul semakin memacu timbulnya perpisahan di antara kita. Dan saya sadar, kamu pun memang harus mencari kehidupan baru yang lebih bisa membahagiakan kamu sendiri. Jangan cuma karena saya, kamu tidak bisa melakukan apa yang kamu mau. Saya selalu membebaskan segalanya. Termasuk mencari yang lain. Hehehe. Di sini bukan kamu yang salah. Mungkin saya yang salah. Saya selalu yang menjadi salah dalam hal seperti ini. Tidak pernah menjadi yang benar. Kenapa? Ya, karena saya yang salah. Simple, kan?Β Baiklah. Untuk kamu yang tidak ditahu keberadaannya di mana sekarang, karena saya juga udah tidak kontak kamu. Terakhir di kontak tidak ada respon. Good bye… See you next time. Mungkin serasa keputusan sepihak. Tapi ini sudah yang terbaik. Entahlah…Β
Mangatse, Ningnong!!! Hwaiting. Proposal dan Skripsi udah di depan mata. Tidak boleh ada yang halangi…. Ciat ciat ciatttt… #silatgalau. π
Kata orang Bulan November itu bulan yang indah. November ceria. *Eh eh eh eh… Salah. Yang benar itu, September ceria, Ning. Hufttt… -___-”
Ya terserahlah. Yang penting namanya itu. Masih berbau ceria. Β Hehehe… Katanya. Saya juga nda punya cukup bukti untuk bilang kalau November ini nih begini, begitu. Okelah. Kita lanjut. Iya. Jadi ceritanya saya lagi galau alias GG. Kata teman saya Gundah Gulana. π Wah wah. Singkatan semakin menggila. π
Untuk malam ini. Semoga saja untuk malam ini. Bukan untuk malam-malam berikutnya. Aamiin. Dan semoga saja, setelah menulis keluh kesah saya di blog tercinta cuit-cuit ini, galau saya udah pergi main jauuuuuuuuuuuhhhhh skali. Aamiin. Aamiin…
November ceria sekarang menjadi November Galau, readers. Sayang sekali, saya belum beruntung memiliki November ceria.
Sepertinya saya tidak jauh bedanya dengan ababil. Kerjaannya galau terus. Ada apa sih dengan perasaan ini? Semakin dewasa, semakin kompleks saja permasalahan. Semakin dituntut DEWASA dalam bersikap… Sekarang lagi hobby dengar lagunya Dewi-Dewi – Begitu Salah Begitu Benar. Hahaha. *GALAU Kronis…
Dan malam ini, saya membiarkan kamu pergi. Malam ini dan seterusnya saja kalau perlu. Tidak perlu kembali lagi. Saya sekarang tidak ada apa-apanya. Entah itu atas alasan pembenaran yang harus dibenarkan oleh perasaan ataupun memaksa logika untuk menerima segala pembenaran yang tercipta. Keadaan semakin runyam. Kondisi untuk membaik pun semakin sulit untuk dibina. Intensitas pertemuan kita pun yang semakin sedikit. Semua faktor yang timbul semakin memacu timbulnya perpisahan di antara kita. Dan saya sadar, kamu pun memang harus mencari kehidupan baru yang lebih bisa membahagiakan kamu sendiri. Jangan cuma karena saya, kamu tidak bisa melakukan apa yang kamu mau. Saya selalu membebaskan segalanya. Termasuk mencari yang lain. Hehehe. Di sini bukan kamu yang salah. Mungkin saya yang salah. Saya selalu yang menjadi salah dalam hal seperti ini. Tidak pernah menjadi yang benar. Kenapa? Ya, karena saya yang salah. Simple, kan?Β Baiklah. Untuk kamu yang tidak ditahu keberadaannya di mana sekarang, karena saya juga udah tidak kontak kamu. Terakhir di kontak tidak ada respon. Good bye… See you next time. Mungkin serasa keputusan sepihak. Tapi ini sudah yang terbaik. Entahlah…Β
Mangatse, Ningnong!!! Hwaiting. Proposal dan Skripsi udah di depan mata. Tidak boleh ada yang halangi…. Ciat ciat ciatttt… #silatgalau. π
Assalamu’alaikummmmmm… Huaaaaa, baru punya kesempatan maen inet. Ye ye ye…
Alhamdulillah. Alhamdulillah…
OK. Sekarang saya sudah menjadi mahasiswa FKIP B.Inggris Unidayan Semester 7. SEMESTER 7, mann… *Ning, sadar Ning. Sadar. Sudah tua… -___-”
Ya, alhamdulillah semester 7 ini, Ning memprogram mata kuliah udah gak banyak. Tinggal 3 mata kuliah aja. KKN-P, Introduction to Computer dan Seminar Proposal. Dan sekarang lagi menjalani KKN-P.
KKN-P ini Ning ditempatkan di Kel. Awainulu, Kec. Pasarwajo, Kabupaten Buton.
Di dalam posko ada 20 orang dari berbagai fakultas di Unidayan. Tiga hari pelaksanaan KKN-P minggu pertama, Ning nggak masuk soalnya lagi sakit. Nanti hari Minggu (23/09) baru Ning naek ke Pasarwajo sama keluarga. Makasih ya, Ma, Pa, Om, Tante, Ade-adeku. Udah mau nganterin Ning. :*
Pertama kali otw ke posko. Perasaan udah mulai gak karuan. Gimana teman-teman di sana. Gimana suasananya, gimana poskonya. Beribu kekhawatiran tuh bertumpuk. *Tseh, gaya lo, Ning. π Dan tiba di posko. SUBHANALLAH… Terobati… Melihat posko KKN-P yang SESUATU banget… Hahahhhahahaha…. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Allah makasih banget…
Posko kami di ruko 4 lantai. Huaaaa… >.< Subhanallah. Makasih ya Allah…Ini baru namanya Posko. Makasih ya Allah. Poskonya Ning di sini… >.<Narsis dulu aahhh di depan posko. π
Alhamdulillah sudah dapat posko yang lebih dari cukup, teman-teman seposko yang saling mengerti dan memahami…
Judul Buku Β Β Β : Habibie & Ainun
Penulis Β Β Β Β Β Β Β : Bacharuddin Jusuf Habibie
Terbitan Β Β Β Β Β : PT. THC Mandiri (Cetakan Kedua, Desember 2010)
Tebal Buku Β Β : xii + 323 halaman
Ukuran Buku : 14 cm x 21 cm
ISBN Β Β Β Β Β Β Β Β Β : 978-979-1255-13-4
Harga Β Β Β Β Β Β Β Β : Rp. 80.000
Pertama kali melihat buku ini pada saat saya berada di Makasar tahun lalu. Dipajang pada etalase Gramedia di Mal Panakukang. Saya tertarik untuk membaca sebagian isi dari buku ini. Jika saya punya banyak waktu, mungkin saya akan berdiri ataupun duduk lama untuk membaca buku ini. Dengan segala keikhlasan hati, saya segera menyimpan buku ini kembali ke tempatnya semula dan membiarkan mata saya liar melihat buku-buku lain yang menarik hati saya.
Beberapa kali saya mondar-mandir melewati Habibie & Ainun karena mata saya tak bisa alpa melihatnya. Saya memang punya maksud untuk membelinya. Apa daya, pada saat itu kecukupan materi saya belum dapat saya penuhi. Dan terpaksa saya hanya bisa melihat-lihatnya. Saat itu, saya berjanji, jika suatu saat nanti saya sudah memiliki cukup materi, saya akan membelinya. Iya. Saya akan memilikinya.
Terbukti, 19 November 2011, saya meminta tolong kepada saudara kandung saya yang kuliah di Makasar, Arini, untuk membelikan saya Habibie & Ainun. Alhamdulillah.Totto ChanΒ dan Habibie & Ainun, buku yang saya nanti-nantikan kehadirannya, bisa menjadi milik seorang yang haus akan materi yang termuat di dalam buku-buku tersebut seperti saya. Alhamdulillah. Trima kasih ya Allah.
Habibie & Ainun. Buku yang memuat kisah hidup perjalanan dua insan yang saling mencintai, memiliki, menyayangi dan menjadi manunggal satu sama lain karena Allah SWT. Perjalanan hidup dalam kisah cinta, politik, sejarah, teknologi, bangsa dan negara Republik Indonesia, tertuang dalam buku ini. Bagaimana Pak Habibie selalu melewati hari-harinya bersama Ibu Ainun yang selalu setia mendampingi. Dengan senyuman yang selalu menenangkan Pak Habibie. Dengan tidak pernah mengeluh kepada Pak Habibie, Ibu Ainun selalu bisa tampil menjadi istri sekaligus ibu yang sebaik-baiknya bagi Pak Habibie dan anak-anaknya. Perjalanan hidup di dalam dan di luar negeri Pak Habibie bersama ibu Ainun, bagaimana ketika mereka hidup di rantau a.k.a di Jerman hingga menemani ibu Ainun pada saat terakhir di dunia. Beliau ceritakan secara detail dalam buku ini. Memang ya, perjuangan menjadi orang sukses harus dimulai dari bawah oleh orang-orang yang memiliki tekad kuat untuk menggapai apa yang menjadi impiannya.
Cita-cita mulia mereka kepada kemajuan bangsa Indonesia untuk sejajar dengan negara-negara maju lainnya menjadi landasan Pak Habibie agar selalu tidak menyerah pada setiap keadaan yang mengganggunya. Pesawat N-250 Gatotkoco menjadi salah satu buktinya. SDM Indonesia harus kita bangun, teman-teman!!! Dan berkat ibu Ainun dengan senyuman ketenangannya yang bisa membuat Pak Habibie selalu tenang dalam melewati hari-harinya. Yang pada akhirnya, Ibu Ainun harus pergi terlebih dahulu meninggalkan Pak Habibie, keluarga, dan seluruh rakyat Indonesia. Mungkin tanggal 22 Mei 2010, hari kepergian Ibu Ainun ke dimensi lain, saya belum merasakan kesedihan yang mendalam. Malah tidak mengeluarkan airmata setitikpun. Hanya ucapan belasungkawa dari dalam hati bagi beliau. Namun, ketika saya membaca buku ini, saya harus membasahi halaman 299 dengan setitik air mata saya yang tidak sengaja jatuh membasahi kertas buku ini. Selamat jalan, Ibu Ainun. Semoga engkau ditempatkan di sisi terindah olehNya. Aamiin.
Terkadang, saya terinspirasi oleh kehadiran ibu Ainun dari cerita yang Pak Habibie tuliskan di buku ini. Yang kata Pak Habibie, Ibu Ainun itu tidak pernah mengeluh kepada beliau. Selalu saja tersenyum dan menandakan bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya dengan melihat wajah dan senyumannya saja, Pak Habibie sudah merasakan ketenangan untuk tetap melakukan aktivitas yang super duper padat. Ibu Ainun tidak pernah mengeluh. Saya jadi terpikir, kalau suatu saat nanti saya menjadi istri orang, akankah saya bisa menjadi seperti seorang ibu Ainun? Walaupun tidak menjadi sama persis dengan sifat ibu Ainun. Sedikitnya, ada lah sifat baik yang saya bisa aplikasikan dalam kehidupan rumah tangga saya nanti. Saya ingin sekali menjadi seperti ibu Ainun. Tidak pernah mengeluh dan hanya selalu memberikan ketenangan dan kedamaian bagi sang suami. Akankah saya bisa menjadi istri yang baik bagi suami saya nanti? Mmm. Tak bisa saya prediksikan. Tapi, keinginan seperti itu pasti ada. Menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak yang baik. Aamiin. -___-
Masalah kekurangan dari buku ini, mungkin cuma dari kesalahan penulisan saja. Masih ada beberapa kata di beberapa lembaran dengan kesalahan penulisan. Tapi, tidak mempengaruhi makna kesatuan kalimat-kalimatnya.
Akan lebih panjang lagi ketika saya harus menceritakan kembali apa yang saya telah baca dari buku ini. Yang pada intinya, buku ini berhasil membuat saya nangis (lagi). >.< TERHARUβ¦
Pasangan hidup yang telah manunggal jiwa dan raganya.
Inspirasi bagi pasangan suami-istri yang rumah tangganya dibangun dengan cinta dan kasih sayang yang tulus karena Allah SWT.
Inspirasi bagi anak muda sebagai SUMBER DAYA MANUSIA yang HARUS BERKUALITAS untuk mengangkat jati diri Bangsa Indonesia dari keterpurukan yang sering menjatuhkan martabat Indonesia. Karena kita BISA!!! Indonesia BISA!!! π
Terima kasih, Pak Habibie, atas tulisan di Habibie & Ainun ini. Buku Anda menginspirasi saya sebagai anak muda Indonesia.
Ayah. We love you, Ayah. Yah. Pak Syahrir atau lebih sering kami panggil Pak Chay adalah salah satu guru favorit kami sewaktu SMA. Beliau mengajar khusus dalam mata pelajaran Kimia kelas XII. Beliau sudah kami anggap seperti ayah sendiri. :’) Entah mengapa, saya selalu mengeluarkan air mata alias nangis jika berada di depan P’Chay. Haduuuhhh, tidak heran kalau saya sering digangguin sama Kiky dan teman-teman dengan sebutan “Cengeng.” -__-”
Iya, kenapa saya menangis? Karena saya selalu mengingat nasehat-nasehat yang diberikan beliau jikalau kami datang mengunjungi beliau. Dan saya pribadi, entah. Sepertinya belum berhasil mengaplikasikan nasehatnya secara maksimal. Tapi, saya akan berusaha sebaik mungkin. Pasti bisa. Insya Allah!!! π
Waktu datang bertamu di rumah Ayah. Saya, WiNNy, Kiky, Mega, Ragil dan Mey. Saya masih ingat beliau bilang, kalau tidak salah seperti ini, “Kalian itu tidak perlu lagi diberi nasehat. Sudah tahu mana yang baik untuk diri kalian, sudah bisa menentukan mana yang salah dan benar.” :'(
Saya diammmm…
“Kalau teman-teman kalian menggalau, kenapa kalian harus ikut-ikutan galau?”
…..
Hening…
Hummm, memang bener sih apa yang dibilang Ayah. Di hari itu, 22 Agustus 2012, saya nangis (lagi). Mendengar apa yang dibilang Ayah. WiNNy cs. pada keheranan karena ngeliat saya nangis. Ini ada apa?Β Ya, saya sih diam-diam saja. Hahaha.
Thanks ya buat Aditya, anak Ayah. Dia tuh so sweet skali. Masih anak SD. Dia ngeliat saya nangis, langsung saya disodorin lagu U SMILEnya Sule dan Andre. Katanya supaya saya nggak nangis lagi. Cieee, terharu saya, Aditya. Makasih banyak ya. π
Sebelum pulang, kita fobar dulu. Sengaja… Hehehe… SURPRISED…
After that, kita janjian untuk ketemu lagi sama Ayah, 24 Agustus 2012. Tempatnya di Keynai. Kami ngasih kado untuk Ayah. Huaaa, terharu. Dua buah bingkai foto yang ada foto kami bertujuh; Ayah, Mega, Kiky, WiNNy, Mey, Ragil dan saya.
@Keynai with them.
Detik-detik Ayah membuka kado. Taraaaa!!!
Cieee, kadonya. π
Yang ini bergifo-gifo ria alias narsis di Keynai. π Sayang Ragilnya gak sempat ikut. π
Ayah, Ning, Mega, Kiky, WiNNy, dan Mey.Ehemmmm… π
Ini adalah salah satu makanan dan masakan khasnya orang Buton. Terbuat dari ikan segar yang mampu bikin ngiler… Rasanya? MANTAP E. Paling enak kasian. Apalagi kalau saya yang buat. Errrr… π
Kebanyakan para ibu rumah tangga bisa buat sendiri di rumah kok. Yang penting tahu resepnya. *Di akhir postingan, saya kasih deh. π
Kalau jalan ke Kota Baubau, yang saya tahu rumah makan yang menyediakan Parende itu ada tiga tempat,
1. RM. PARENDE (di dekat Umna Plaza Wolio),
RM. PARENDE
2. RM. PASEBA (Samping Akper Betoambari), dan
3. IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA (Sekitaran Pasar Wameo).
Ikan Parende Wameo Mama Jana
Well. Di postingan ini, saya mau berbagi cerita tentang pengalaman makan ikan parende di rumah makan IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA. Letaknya tak jauh dari pasar ikan, yaa dekat rusunawa lah. Paling ujung, dekat laut. Saya, Arini, dan Mama ke Pasar Wameo. Habis “cakar”. Rencananya cuma ikut-ikutan mereka saja. Daripada saya bengong sendirian di rumah. Ya udah, nemenin Arini nyari celana, baju, dan tas. Trus, slsai belanja, Mama nawarin kita makan ikan parende. Yang setahu saya, di Wameo gak ada lah. Cuma di dua tempat yang saya telah sebutkan tadi. Eh, tiba-tiba Mama nunjukin tempat makan yang bangunannya tuh sederhana. Mungkin karena masih baru, jadi masih dibuat dari jelajah. Tapi, gak masalah. Aje gileeee, PADAT. Orang-orang pada ngantri euy. Katanya sih, denger-denger, yang makan ikan Parende di sini banyakan orang kantoran euy. π Gak heranlah. Berjejer tuh mobil dan motor di tempat parkir.
Memang sih Baubau terkenal dengan cuaca panasnya. Tapi, kalau udah tiba di tempat makan ini, gak bakalan ngerasain namanya panas deh. Iya. Ada ACnya euy. Hebat… AC alami maksudnya. π Angin. Maklumlah letaknya di pinggir laut.
Untuk Parendenya itu Rp. 12.000/mangkok. Sudah dengan nasi dan air minum. Kalau mau pesan, kayaknya mesti sabar bin ikhlas. Lantaran terlalu banyak pengunjung, kadang pesanan kita datangnya tuh lumayan lama. Apalagi duduk paling ujung, jauh dengan dapur. Pertama-tama, yang datang mangkok cuci tangannya. Beberapa menit kemudian, nasi putihnya. Setelah itu Ikan PARENDEnya. Huiihhh, butuh kesabaran menunggu semua itu. -__-”
Jadi, saya menyarankan. TIPS datang ke sana. Duduknya kalau bisa duduk dekat dapur. Supaya mudah dipantau dan diliatin kalau pesanannya belum datang. Jangan kayak saya sama Tafry. Udah badannya kecil, duduk di ujung, jauh lagi dari dapur. Alhasil, LAMA yang kita rasain. Huiiihhhhh… Menguras hati. Tapi, gak apa-apalah. Yang penting, saya makan ikan PARENDE. π
Seperangkat alat pengenyang. πParende and Us
Ko makan dulu kasian, Arini. Jan dulu liat HPmu. HMB… -___-“
Waktu makan di tempat ini, saya emang nikmati tuh makanan. Tapi, gak seberapa. Soalnya, baru aja selesai makan, saya udah disuruh berdiri sama Mama. Teman Mama kebetulan datang makan di situ, dan tempat duduk itu GAK ADA yang KOSONG. Jadinya, saya ngalah saja. Ededehhh. Pengunjungnya ramai nian euy.
Jadi, bagi yang belum ke sana, direkomendasikan deh untuk cobain Parende di tempat itu.
P.S. Karena dekat dengan pasar ikan, semoga penciumannya aman-aman saja ya. π It doesn’t matter.
Oh, iya. Saya mau bagi-bagi resep bagaimana caranya membuat ikan Parende. Ini bukan resep dari mana-mana ya. Cuma resep dari Mama saya. π Dan Mama paling jago buat ikan Parende. Haahaa… I love you, Mamakyu… π Ababil…
RESEP IKAN PARENDE ALA MANING (Mama Nining) π
Bahan:
Yang paling enak itu ikannya ikan karang atau Ikan Bobara atau Ikan Kakap Merah.
Jeruk Nipis,
Bawang Merah dan Bawang Putih (diiris),
Belimbing, Kunyit bubuk, Tomat, Daun Serei, Daun Kemangi, Garam dan Bumbu Penyedap.
*Semua bahan di atas, tidak mempunyai takaran tertentu. Ya, secukupnya saja. Menurut kemauan Anda bagaimana dan seperti apa.
Cara Membuat:
Airnya dimasak hingga mendidih, bersamaan dengan bawang, belimbing, tomat, daun serei. Setelah mendidih, masukkan ikannya, masak sampai matang. Jangan lupa beri bumbu penyedap. Setelah matang, angkat lalu masukkan daun kemangi.
Hidangkan bersama nasi hangat…
Eh eh, jangan lupa juga. Taburkan bawang goreng dan tiriskan jeruk nipis secukupnya. Kalau mau yang pedas, lombok biji paling mantep. *Aduuuhhhh, ngilerrr langsung… -__-“
Sekian resep dari Ning ‘Little’ Syafitri, anak Baubau. π
Habis googling eh, nemu artikelnya Pak Yusran Darmawan tentang pengalaman beliau bersama ikan Parende di RM. Parende, Baubau. Intip cerita beliau, yuk. Di SINI…
Ini adalah salah satu makanan dan masakan khasnya orang Buton. Terbuat dari ikan segar yang mampu bikin ngiler… Rasanya? MANTAP E. Paling enak kasian. Apalagi kalau saya yang buat. Errrr… π
Kebanyakan para ibu rumah tangga bisa buat sendiri di rumah kok. Yang penting tahu resepnya. *Di akhir postingan, saya kasih deh. π
Kalau jalan ke Kota Baubau, yang saya tahu rumah makan yang menyediakan Parende itu ada tiga tempat,
1. RM. PARENDE (di dekat Umna Plaza Wolio),
RM. PARENDE
2. RM. PASEBA (Samping Akper Betoambari), dan
3. IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA (Sekitaran Pasar Wameo).
Ikan Parende Wameo Mama Jana
Well. Di postingan ini, saya mau berbagi cerita tentang pengalaman makan ikan parende di rumah makan IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA. Letaknya tak jauh dari pasar ikan, yaa dekat rusunawa lah. Paling ujung, dekat laut. Saya, Arini, dan Mama ke Pasar Wameo. Habis “cakar”. Rencananya cuma ikut-ikutan mereka saja. Daripada saya bengong sendirian di rumah. Ya udah, nemenin Arini nyari celana, baju, dan tas. Trus, slsai belanja, Mama nawarin kita makan ikan parende. Yang setahu saya, di Wameo gak ada lah. Cuma di dua tempat yang saya telah sebutkan tadi. Eh, tiba-tiba Mama nunjukin tempat makan yang bangunannya tuh sederhana. Mungkin karena masih baru, jadi masih dibuat dari jelajah. Tapi, gak masalah. Aje gileeee, PADAT. Orang-orang pada ngantri euy. Katanya sih, denger-denger, yang makan ikan Parende di sini banyakan orang kantoran euy. π Gak heranlah. Berjejer tuh mobil dan motor di tempat parkir.
Memang sih Baubau terkenal dengan cuaca panasnya. Tapi, kalau udah tiba di tempat makan ini, gak bakalan ngerasain namanya panas deh. Iya. Ada ACnya euy. Hebat… AC alami maksudnya. π Angin. Maklumlah letaknya di pinggir laut.
Untuk Parendenya itu Rp. 12.000/mangkok. Sudah dengan nasi dan air minum. Kalau mau pesan, kayaknya mesti sabar bin ikhlas. Lantaran terlalu banyak pengunjung, kadang pesanan kita datangnya tuh lumayan lama. Apalagi duduk paling ujung, jauh dengan dapur. Pertama-tama, yang datang mangkok cuci tangannya. Beberapa menit kemudian, nasi putihnya. Setelah itu Ikan PARENDEnya. Huiihhh, butuh kesabaran menunggu semua itu. -__-”
Jadi, saya menyarankan. TIPS datang ke sana. Duduknya kalau bisa duduk dekat dapur. Supaya mudah dipantau dan diliatin kalau pesanannya belum datang. Jangan kayak saya sama Tafry. Udah badannya kecil, duduk di ujung, jauh lagi dari dapur. Alhasil, LAMA yang kita rasain. Huiiihhhhh… Menguras hati. Tapi, gak apa-apalah. Yang penting, saya makan ikan PARENDE. π
Seperangkat alat pengenyang. πParende and Us
Ko makan dulu kasian, Arini. Jan dulu liat HPmu. HMB… -___-“
Waktu makan di tempat ini, saya emang nikmati tuh makanan. Tapi, gak seberapa. Soalnya, baru aja selesai makan, saya udah disuruh berdiri sama Mama. Teman Mama kebetulan datang makan di situ, dan tempat duduk itu GAK ADA yang KOSONG. Jadinya, saya ngalah saja. Ededehhh. Pengunjungnya ramai nian euy.
Jadi, bagi yang belum ke sana, direkomendasikan deh untuk cobain Parende di tempat itu.
P.S. Karena dekat dengan pasar ikan, semoga penciumannya aman-aman saja ya. π It doesn’t matter.
Oh, iya. Saya mau bagi-bagi resep bagaimana caranya membuat ikan Parende. Ini bukan resep dari mana-mana ya. Cuma resep dari Mama saya. π Dan Mama paling jago buat ikan Parende. Haahaa… I love you, Mamakyu… π Ababil…
RESEP IKAN PARENDE ALA MANING (Mama Nining) π
Bahan:
Yang paling enak itu ikannya ikan karang atau Ikan Bobara atau Ikan Kakap Merah.
Jeruk Nipis,
Bawang Merah dan Bawang Putih (diiris),
Belimbing, Kunyit bubuk, Tomat, Daun Serei, Daun Kemangi, Garam dan Bumbu Penyedap.
*Semua bahan di atas, tidak mempunyai takaran tertentu. Ya, secukupnya saja. Menurut kemauan Anda bagaimana dan seperti apa.
Cara Membuat:
Airnya dimasak hingga mendidih, bersamaan dengan bawang, belimbing, tomat, daun serei. Setelah mendidih, masukkan ikannya, masak sampai matang. Jangan lupa beri bumbu penyedap. Setelah matang, angkat lalu masukkan daun kemangi.
Hidangkan bersama nasi hangat…
Eh eh, jangan lupa juga. Taburkan bawang goreng dan tiriskan jeruk nipis secukupnya. Kalau mau yang pedas, lombok biji paling mantep. *Aduuuhhhh, ngilerrr langsung… -__-“
Sekian resep dari Ning ‘Little’ Syafitri, anak Baubau. π
Habis googling eh, nemu artikelnya Pak Yusran Darmawan tentang pengalaman beliau bersama ikan Parende di RM. Parende, Baubau. Intip cerita beliau, yuk. Di SINI…
ALhamdulillah. Alhamdulillah. Uhuhuhuyyy. Akhirnya saya dan teman-teman bisa reunian SD lagi. Gak disangka teman SD masih bisa saling kontak-kontakan. Hihihi… Insya Allah tahun depan lagi ya kita ketemuannya… Aamiinn…
Bagi yang merasa ALUMNI SDN 2 NganganaUmala Baubau 2003 yang lain, tolong ya kalau baca postingan ini dan mau gabung sama kami, hubungi saya saja melalui blog ini. Kontak kalian, we need it.
Habis bukber on 160812with Ria… :*Di rumah Rifa, Batauga. 21Agustus 2012Di sawah Uciiii, 23Agustus2012Menu Andalan. Ikan bakar dan saudara2nya. π23Agustus2012
See you tahun depan yaaa… π Insya Allah… Aamiin…
Pengen seperti burung yang terbang bebas di angkasa.
Bisa ke mana aja. Semau dia. Bebas.
Mau ke utara kek, selatan, barat, timur. Seluruh penjuru mata angin bisa dilalui dengan mudah. Bebas hambatan. Siapa yang mau menghalangi? Gak ada. Terkecuali burung pecicilan yang mau ngegangguin dia. π
Hidup hiduuuppp.
So sweet banget sih lo. Bisa buat orang UP and DOWN.
Senang dan susah. Bahagia dan sedih. Kayak tarik tambang gitu. -___-”
Begini nih. Kalau sudah ada masalah, segala aspek dalam kehidupan sekitar saya ikut terlibat. Gak bisa diatasin. Saya seharusnya lebih DEWASA untuk menyikapi hal ini semua. Dituntut MANDIRI dan BERTANGGUNG JAWAB akan hal-hal yang terjadi dan akan terjadi pada diri saya sendiri. Yang pada kenyataannya, sepertinya belum mencapai titik kesempurnaan. OMG. Sampai kapan coba??? Sekarang udah umur 20-an. Hellooo??? Saya bukan lagi sebagai anak kecil rupanya. Hmmm… Harus bisa menimbang-nimbang dan memutuskan hal-hal yang baik untuk saya dan orang lain.
Kata Ayah saya, di umur kami yang sudah cukup dewasa ini, kami sudah cukup dinasehati ini itu. Sekarang tinggal memilih saja mana jalan yang baik untuk diri sendiri. *Addduhh, saya belum cukup dewasa kalau masalah ini. π
Yang penting, saya harus yakin sama Allah dan orang tua saya. Kalau mereka memang yang terbaik. Apapun keputusannya saya ikhlas. For the sake of the happiness my parents. π Insya Allah. π Semoga Allah meridhoi. Aamiin…
...
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.