Posted in Life, Love

Hello, 25!

“Usia 25 tahun bukanlah hal yang menakutkan untuk dianggap sebagai seseorang yang sudah cukup tidak muda lagi. Sudah saatnya dituntut dewasa dalam berpikir dan bertindak. Lebih bijak dalam menjalani hidup yang konteks permasalahannya semakin rumit. Ini tentang tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Tentang orang-orang yang telah mendampingi hidup saya selama 25 tahun, calon pendamping hidup, dan masa depan.” (Little Syafitri – 14 April 2016)

messageImage_1460573611312
Tawwa, Gugel. Care-nya sama saya. Terharuku. Hehehe…

Hello, 25! Seperempat abad ya di tahun ini, tahun 2016. Alhamdulillah masih diberi umur panjang untuk menambah amal kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak walaupun dosa saya kayaknya lebih banyak dari semua kebaikan yang dilakukan selama ini. Mohon ampun, Allah. I am not a perfect servant.

Well, dua puluh lima ya? Tidak terasa. I’m 25 years old now. This is like something special. Yaa, walaupun cuma lewat tulisan saja tapi this post will be a part of my life history. Thank you, blog. Udah nemenin sejauh ini, dari saya masih ababil sampai setua ini. Hehehe. You can imagine how this blog can save me, 2009 – present.

This moment becomes a sign that human being grows and develops. Banyak pengalaman yang telah dilewati hingga menginjak usia 25 tahun ini. Dari segi fisik, saya memang udah stop perkembangannya, tingginya semampai (semeter tak sampai). Udah cukup. Mau diapain juga udah kayak begini, little little imut. Tidak jarang saya sering disangka masih muda-muda ababil. Baru-baru ketemu senior di mushala trus kami membahas masalah jodoh, pernikahan, dan usia. Eh, saya disangkanya masih umur 22 tahun. Itulah, kadang faktor tinggi badan yang semampai dan muka baby face dapat menjadi pelindung di usia yang sudah *ehm* dewasa ini. Yang penting sehat walafiat, tidak cacat agar maharnya tak kurang. 😀

Dari segi pengetahuan, lebih fokusnya sih mengarah ke pengetahuan tentang pelajaran hidup, tentu sudah banyak input yang masuk sehingga dapat menjadi bekal untuk ke depannya nanti dalam menyelesaikan masalah dengan lebih bijak lagi. Ya, seperti kata Kahn dan Wright (1980) dalam bukunya “Human Growth and the Development of Personality”, seiring pengetahuan kita bertambah, maka masalah yang kita hadapi juga akan semakin rumit. Entah hasil masalah itu membahagiakan atau menyedihkan, who knows. Yang pasti, tiap orang akan mengalami kedua pilihan itu, happy or sad.

Dalam menyambut usia 25 tahun ini, saya sedikit mengadakan survey kecil-kecilan terhadap 23 teman sebagai respondennya, lebih rincinya 21 orang berstatus single dan 2 orang berstatus married. Tujuannya adalah saya ingin mengetahui bagaimana persepsi responden tentang usia 25 tahun, ya lebih khususnya teman-teman di lingkungan sekitar saya. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka lebih menganggap bahwa berada di usia 25 tahun itu sesuatu yang patut disyukuri (sebanyak 24%) dan sesuatu yang biasa saja (24%). Wow, dua hal yang berlawanan dalam same percentage. Persepsi ini disusul dengan pendapat mereka yang mengatakan bahwa usia 25 tahun itu amazing (16%).

Juga, dari survey itu sendiri, ada 3 (tiga) jawaban terbanyak yang menjadi faktor penyebab mereka beranggapan seperti demikian.

  • Pemikiran tentang masa depan (37%)
  • Tuntutan hidup untuk lebih dewasa (29%)
  • Keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya (12%)

Menurut saya, anggapan usia 25 tahun itu merupakan suatu kesyukuran dan feel amazing karena dua faktor tersebut, yaitu pemikiran tentang masa depan dan tuntutan hidup untuk lebih dewasa. Telah muncul kesadaran dari diri sendiri tentang who and how we are. Nah, di sini sudah terbentuk sikap orang dewasa. Berlakulah apa yang dibilang Kahn dan Wright (1980), “adult life is the stage when individuals are expected to be able to take responsibility for their own care…. In the adult stage of life, people are expected to take responsibility for their owns selves, for their children, for their own old age which is yet to come, and perhaps for the care of older people who are part of their present family.”. Ada tanggung jawab yang dimiliki untuk masa depan, seperti tanggung jawab terhadap orang tua; terhadap diri sendiri, bagaimana menjadi seorang pribadi yang lebih mature lagi hingga kita dapat berpikir dan bertindak dengan cara yang tepat dan bijak terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita; tentang karir agar tercipta kemandirian secara finansial; dan tentang jodoh, pernikahan, keluarga dan anak.

Sedangkan, usia 25 tahun merupakan hal yang biasa saja, ini diakibatkan oleh keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya. Pendapat saya, hal ini terjadi karena beberapa respondent saya memang masih berstatus single, sifatnya easy going saja sama apa yang mereka hadapi sekarang dan karena rata-rata masih berada pada tahap pendidikan formal jadi pemikirannya masih belum mengarah ke respon tentang hal-hal yang lebih serius, jodoh misalnya. 😀

Selain menanyakan persepsi tentang usia 25, saya juga meminta responden untuk mengutarakan harapan yang hendak ingin dicapai pada usia 25 tahun ini dan hasilnya adalah: (*jawaban diambil yang hanya bersifat dominan)

  • Tentang jodoh (24%)
  • Tentang peningkatan kualitas diri (21%)
  • Tentang keproduktifan diri hingga terjadi finansial yang mandiri (14%)
  • Tentang kebahagiaan orang tua (10%)
  • Tentang kesuksesan studi (10%)

Berdasarkan lima harapan yang secara garis besar dikemukakan para responden yang keseluruhannya adalah wanita, ya sepertinya sudah seperti ini juga harapan saya di usia 25 tahun ini.

Tentang jodoh, ini menandakan bahwa dalam menjalani hubungan antara pria dan wanita, ada keseriusan di dalamnya. Tidak lagi pacaran sekedar have fun saja dan just for getting status kalau kita bukan jomblo. No, it is about relationship for future.

Tentang peningkatan kualitas diri. Ya, setiap orang menginginkan dirinya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semua yang buruk, diikhlaskan saja. Ambil hikmahnya. Yang baiknya, dipertahankan dan atau ditingkatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semua-semuanya kan ibadah untuk Allah. Selalu saja teringat pesan Pak Kahar, apapun yang kita lakukan (dalam hal kebaikan), sifatnya adalah ibadah kepada Allah.

Ada keinginan sendiri ingin memiliki pekerjaan yang baik, bagus, dan mapan hingga akhirnya bisa menghasilkan uang dari keringat kita sendiri. Dari teman-teman seumuran yang saya temui, mereka merasa sudah tidak pantas lagi kalau harus meminta uang dari orang tua. Kayak ada rasa malu kalau masih harus meminta. Udah seusia seperti ini masih bergantung sama orang tua. Iya, mereka hebat-hebat ya. Sudah bisa produktif, sudah punya kerjaan, punya uang sendiri, trus dinikmatin. Yaa, Alhamdulillah lah. Semoga nanti saya dapat mengikuti jejak mereka, setelah lulus kuliah. Aamiin.

Kebahagiaan orang tua. Bagaimana caranya orang tua bisa bahagia dengan adanya kita di samping mereka. Ya, menurut pribadi saya adalah menjadi anak yang baik, patuh kepada mereka, belajar yang baik di sekolah, care sama kondisi rumah, dsb. sudah buat hati mereka tenang. Kemarin-kemarin saya belum sepenuhnya sadar dan peduli tentang perasaan mereka, hingga muncullah omelan-omelan teguran dari orang tua, tentang inilah, tentang itulah. Tapi, semakin ke sini, saya agak mulai sadar. Oh iya, saya harusnya begini, kalau nanti posisi saya menjadi orang tua dan anak saya tingkah lakunya tidak sesuai apa yang seharusnya, pasti kan saya ngomel-ngomel lagi. Masih ingat apa yang sering dibilang sama mama, “Kalian belum rasakan karena belum punya anak.” Nyess. Itulah, tapi sekarang kan udah 25, udah bisa berpikir tentang hal-hal terbaik apa yang harusnya dilakukan untuk kedua orang tua. Maaf, Ma, Pa. Ning banyak salah e.

Terakhir, tentang kesuksesan studi. Iya, jawaban ini mungkin didominasi oleh para ladies yang notabenenya masih menjadi seorang mahasiswa. Semangat untuk S2 dan praktik kedokterannya, gaess… Insya Allah kita dapat melewati hal ini bersama-sama. Demi dia dan si buah hati. Hahaha.  Actually, we are wonderful women, right? Persoalan keberhasilan studi bukan cuma faktor intelegensi akademik, namun semuanya tergantung rezeki yang dikasih Allah. Sekuat apapun keinginan ingin menyelesaikan studi, tapi jika belum dikasih jalan sama Allah, mau bagaimana. Sama, kayak saya. Mau sekalimi maju ujian seminar proposal, tapi terhalang oleh sesuatu hal. Mau bagaimana. We cannot force. Tetap berdoa saja sama Allah, Ning. In syaa Allah dimudahkan. Ingat, Ning. Allah tidak pernah salah atas kejadian yang menimpa umatNya.

Oke. Finish. Sorry, artikel kali ini lumayan puanjanggg…

Terima kasih untuk segala partisipasinya, teman-teman. Ini merupakan salah satu bentuk hadiah teman-teman ke saya secara tidak langsung. Happy 25 years old.

“Semakin saya sadari kalau hidup itu butuh perjuangan. Tidak ada yang instan. Tidak ada hasil yang baik kalau tidak berusaha. Dan jangan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, masing-masing punya jalannya. Yang penting kita selalu meliat ke depan dan bergerak maju. …. Sekarang itu bagaimana caraku bisa hidup dan menghidupi.” (NSS – 9416)

Posted in Blog, Friend, Life, Love

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂

Posted in Blog, Life

(Mungkin) Sendiri Dulu

Sambil menikmati masa-masa kritis karena tesis ini, saya mau bercerita dulu. Tentang perjalanan saya pasca Januari 2016 kemarin hingga sekarang. *Kalau yang merasa tulisan ini menyampahkan pengetahuan Anda, monggo gak usah dibaca. Hehehe…

As we know, saya mahasiswa tingkat akhir yang lagi (sok) sibuk ngurus tesis, (sok) sibuk baca artikel jurnal, (sok) sibuk cari teori, (sok) sibuk cari pembimbing yang jadwal bimbingannya seminggu sekali. Bukan juga itu, judul saya pun yang belum kelar. See, what stupid I am. Udah dari bulan Oktober 2015 kemarin kita seminar penentuan pembimbing tapi judul aja masih belum fix. How come? -____-“ Yaaa, salah saya sendiri sih sebenarnya. Nah kan, saya bukan contoh mahasiswa yang baik. Maklum, saya mah biasa-biasa aja. Otak nda encer-encer amat tuh. 😀 “Makanya, Ning. Belajar dari Oppa Lee Ju Young”.

Sekarang udah masuk Maret 2016. “Kapan seminar proposalnya, Ning?”, pertanyaan itu serasa suatu perintah di mana saya harus duduk di pojokan terus nunduk sambil garuk-garuk tanah, terus gak nyadar air matanya jatuh. Eh, sedih sendiri sayanya. Iya, ini nih yang lagi gencar-gencarnya diperjuangkan sebelum memperjuangkan cintanya hati. *eeaaa 😀 Ingat kata salah satu sahabat saya yang mau nikah tahun ini kepada Mey dan saya, “Kalian cepat-cepat urus tesisnya, supaya jodohnya juga cepat.” Errrr… -____-“ Mentang-mentang dia mau nikah. Yaa, itung-itung sebagai moodbooster untuk semangat terus kerja tesisnya.

Oh iya, tadi sempat kepikiran sama adek pertama saya, Arini. 😀 Nggak tahu kenapa.  Mungkin karena tanggal 4 Maret kemarin dia ulang tahun ya dan saya nggak ngasih hadiah apapun ke dia. Maklum, Sist. Saya belum punya uang sendiri. Nanti ya, kapan-kapan.

Terasa sekali perbedaannya ketika ada dan tidak ada dia di sini. After January 2016, saya harus ke Makassar untuk menyelesaikan ‘tugas mulia’ ini dan dia stay bersama keluarga di Baubau. It means saya harus sendiri di sini. Kemarin dia enak, kerja skripsi saya yang temani; ke café untuk kerja skripsinya ditemani, translate artikel jurnalnya ditemani dan dibantu untuk ditranslatekan juga, sampai-sampai ditunggui di luar ruangan pembimbingnya sampai selesai. Enaknya begitu, Arinces ee. Na saya? Kerja tesis sendiri. Nda ada yang tanya-tanya kabar kemajuan tesis dan pembimbing. Ada memang yang nanyain, itu Mama sama Papa. Tapi LDR e… Kasianku mi. LOL.

Be honest, bedami rasanya nggak ada anak galak itu. Kalau naik motor, biasanya boncengan. Kalau dia yang bawa motor, dia paling tidak suka dipeluk. -___-“ Na bukan ji LGBT inie… Tapi kapan kalau saya yang bawa motor, sudah dia yang paling cerewet dari belakang. Marah-marahnya itu lho.

Ko (kamu) hati-hati, Ning. Sini saya yang bawa motor.

 “Orang itu ambil jalur kiri…”

“Jan (jangan) terlalu kiri”

“Jan terlalu kanan”

“Ko di tengah-tengah.”

“Ko parkir bagaimana kah? Sini saya yang parkir.”

Kata-kata itu yang biasanya keluar dari omelannya. Katanya kalau saya yang bawa motor suka tidak jelas. Bagaimana tidak jelas, cuma diomeli begitu tapi nggak dikasih tahu alasannya kenapa. Saya kan jadi bingung, Sist. Saya diomeli dari saat perjalanan sampai mau nyari parkiran. Kadang suka ketawa dalam hati kalau sudah diomeli begitu.Tapi saya sih nggak terlalu dimasukin dalam hati karena untuk kebaikan diri sendiri juga kan. Yaa, sok-sok cuek kalau diomeli, tapi sebenarnya peduli. That’s Aries’ way. 😀

Tadi juga, kebetulan lapar menghampiri sepulang dari kampus, saya singgah di tempat makan dekat rumah. Biasanya dia pesan nasi goreng, saya mie kuah. Eh, saya pesannya nasi goreng. Ingat dia sih. Yaa, kangen aja. Teman ada sih, tapi kan mereka punya kesibukan lain dan rasanya beda kan saudara kandung dan yang tidak. Hehehe.

9684

Kemarin juga. Di saat lagi stress-stressnya sama tesis, saya memutuskan untuk nonton film di bioskop. With whom? No one. Sendirian. Di kala judul film ini pasnya nonton sama teman-teman. Serasa mau menertawakan diri sendiri. 😀 Biasanya kan kalau nonton itu sama adek. Jadinya asik, nggak kerasa jones-jonesnya. 😀 Eh, bukan jones, tapi high quality single. LOL. #bukanmodus.

Biasanya kalau jalan di mall, kalau udah lapar saya mulai memberikan semacam kode-kodean ke Arini agar kita cuss ke tempat makan terdekat. Sayangnya, responnya tidak mendukung aksi saya. Katanya, “Jangan makan di mall, mahal.” LOL. Saya maklum sama pemikirannya. Sebagai anak perantau harus pintar perhitungan. Di sisi lain, perut juga butuh perhatian kan. Saya selalu teringat sama omongannya Papa, “Kalau sudah lapar, makan.” Jadi tiap saya lapar, ya harus makan, Arinces. Di manapun itu. Walaupun kadang pandangan kita tentang harga makanan itu berbeda. Kadang dia merasa mahal dan saya merasa itu lumayan murah. 😀 Ya udah, saya ngikut aja. Makannya nanti di rumah. Palingan kalau untuk mengganjal perut, beli roti atau snack. -_-‘ Sekarang, kalau jalan sendirian di mall, udah lebih menimbang-nimbang berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Utamanya untuk masalah makanan. Hahaha. Keras kehidupanga…

Apa-apa sendirian. Mau gimana lagi. Kenyataannya begitu. Tidak selamanya ekspektasi yang indah itu berbanding lurus dengan kenyataan yang ada. Contohnya? Gak usah pake contoh deh. Nanti dibilang modus lagi. 😀 Walaupun begitu, kok saya seperti fine-fine saja. Yaa, just enjoy it. Tapi, kadang itu berbahaya juga lho. Seperti kata 9gag.com. “Loneliness is dangerous. It’s addicting. Once you see how peaceful it is, you don’t want to deal with people.” And I shouldn’t do like that because I also need someone who can make a peace in my heart. Eeeaa… Ingat tesis, Ning. Ingat tesis. Jangan dulu eeaa eeaa… 😀 Iya, sist. Lagi on fire ini, berjuang untuk kemaslahatan keluarga. Hehehe. Mangatse…!!! Loneliness is not a hindrance, but a spirit for focusing on what I am doing.

9683

Posted in Blog, Life

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika
Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

A Brief Info of This Comic:
Author : Raditya Dika
Ilustrator : Milfa Saadah
Publisher : GagasMedia
Page : vi + 130 pages
Edition : First Edition
Year : 2016
ISBN : 979 – 780 – 854 – 8

Jadi ceritanya hasil karya terbaru penulis kesukaan saya, Raditya Dika (RD), telah terbit Februari 2016 ini. Alhamdulillah. Sebenarnya tidak ada niat untuk mau membeli secara inden karena this is a comic, not a book. Tapi, karena junior yang sama nge-fansnya sama RD, Nanang Alfianti, berhasil membujuk saya dengan kalimat persuasifnya. 😀 Maka jadilah, saya inden di Gramedia Panakukkang, dia inden via online. Hehehe… Gimana bukunya, Nang? Udah tiba? 😀

Well, saya indennya tanggal 4 Februari 2016 di Gramedia Panakukkang. Dua minggu kemudian, 19 Februari 2016, saya ditelpon dari pihak Gramed bahwa komiknya sudah dapat diambil. Hari itu juga saya go to MP and grab it fast. Thank you buat Nova yang sudah menemani waktu inden dan Hikma waktu ngambil komik ini. Begini nih, pengaruh adik sudah duluan balik ke Baubau dan saya masih stay di sini untuk menyelesaikan tugas besar. Berani bertindak, berani bertanggung jawab. Berani sekolah, berani menyelesaikan nya dengan baik dan tepat waktu. >.< Aamiin.

Kembali ke topik. Jadi, sesuai apa yang dikatakan RD kalau pesannya secara inden dapat kaos dan tanda tangannya dan Milfah, sang ilustrator. Yaa, alhamdulillah sekali, saya dapat seperti apa yang dijanjikan. Ini adalah kedua kalinya hasil karya RD yang saya lakukan for the sake of getting ori signature from him. 😀 Tinggal ketemuan langsung yang belum terwujud. Smoga dapat terealisasi. Aamiin. >.< Btw, gambar kaosnya agak gimanaaa gitu. Rada-rada gak setuju. Soalnya tidak mewakili perasaan. Hahaha. Tapi lucu saja. Kayak ada manis-manisnya gitu. 😀 Oh iya, kaosnya warna putih, ukurannya pas sama badan kecil kayak saya. (y) (y) Makasih makasih, Bang RD.

Komik RD ini memiliki enam tema di dalamnya, yaitu: Naksir, Pacaran, Mantan, Baper, Jomblo dan Kegelisahan. Busyeeettt… Waktu pertama liat topiknya, bebetul ini la Radith ee… Cinta semua pwa. Iya, semua tentang keadaan di sekitar kita, entah itu pengalaman diri sendiri atau orang lain. Hampir semua cerita dari komik ini membuat saya dari tersenyum kecut sampai tertawa terbahak-bahak. LOL. Bang Radith, kok kamu lucu romantis kreatif begini sih? 

Dari sisi kemasan, RD sangat kreatif dalam memproduksikan segala bentuk idenya ke dalam wadah yang bisa dinikmati orang banyak. Seperti ini nih. Cuma gara-gara twit, bisa dibuat komik. Kemasan ide yang bagus kan? Keren deh.

Komik ini adalah salah satu hiburan di sela-sela menyelesaikan big project saya. Cukup terhibur dengan kehadirannya di sini. Walaupun cuma sebuah printed comic, but it gives happiness for me. Alhamdulillah. Mmm, dengan ini saya merekomendasikan bagi siapa saja yang butuh candaan ringan untuk membaca Komik Dari Twit-nya Raditya Dika. 😀

“Karena kegelisahan ada baiknya ditertawakan”. Happy Satnite, guys! 😀

Posted in Blog, Life

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika
Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

A Brief Info of This Comic:
Author : Raditya Dika
Ilustrator : Milfa Saadah
Publisher : GagasMedia
Page : vi + 130 pages
Edition : First Edition
Year : 2016
ISBN : 979 – 780 – 854 – 8

Jadi ceritanya hasil karya terbaru penulis kesukaan saya, Raditya Dika (RD), telah terbit Februari 2016 ini. Alhamdulillah. Sebenarnya tidak ada niat untuk mau membeli secara inden karena this is a comic, not a book. Tapi, karena junior yang sama nge-fansnya sama RD, Nanang Alfianti, berhasil membujuk saya dengan kalimat persuasifnya. 😀 Maka jadilah, saya inden di Gramedia Panakukkang, dia inden via online. Hehehe… Gimana bukunya, Nang? Udah tiba? 😀

Well, saya indennya tanggal 4 Februari 2016 di Gramedia Panakukkang. Dua minggu kemudian, 19 Februari 2016, saya ditelpon dari pihak Gramed bahwa komiknya sudah dapat diambil. Hari itu juga saya go to MP and grab it fast. Thank you buat Nova yang sudah menemani waktu inden dan Hikma waktu ngambil komik ini. Begini nih, pengaruh adik sudah duluan balik ke Baubau dan saya masih stay di sini untuk menyelesaikan tugas besar. Berani bertindak, berani bertanggung jawab. Berani sekolah, berani menyelesaikan nya dengan baik dan tepat waktu. >.< Aamiin.

Kembali ke topik. Jadi, sesuai apa yang dikatakan RD kalau pesannya secara inden dapat kaos dan tanda tangannya dan Milfah, sang ilustrator. Yaa, alhamdulillah sekali, saya dapat seperti apa yang dijanjikan. Ini adalah kedua kalinya hasil karya RD yang saya lakukan for the sake of getting ori signature from him. 😀 Tinggal ketemuan langsung yang belum terwujud. Smoga dapat terealisasi. Aamiin. >.< Btw, gambar kaosnya agak gimanaaa gitu. Rada-rada gak setuju. Soalnya tidak mewakili perasaan. Hahaha. Tapi lucu saja. Kayak ada manis-manisnya gitu. 😀 Oh iya, kaosnya warna putih, ukurannya pas sama badan kecil kayak saya. (y) (y) Makasih makasih, Bang RD.

Komik RD ini memiliki enam tema di dalamnya, yaitu: Naksir, Pacaran, Mantan, Baper, Jomblo dan Kegelisahan. Busyeeettt… Waktu pertama liat topiknya, bebetul ini la Radith ee… Cinta semua pwa. Iya, semua tentang keadaan di sekitar kita, entah itu pengalaman diri sendiri atau orang lain. Hampir semua cerita dari komik ini membuat saya dari tersenyum kecut sampai tertawa terbahak-bahak. LOL. Bang Radith, kok kamu lucu romantis kreatif begini sih? 

Dari sisi kemasan, RD sangat kreatif dalam memproduksikan segala bentuk idenya ke dalam wadah yang bisa dinikmati orang banyak. Seperti ini nih. Cuma gara-gara twit, bisa dibuat komik. Kemasan ide yang bagus kan? Keren deh.

Komik ini adalah salah satu hiburan di sela-sela menyelesaikan big project saya. Cukup terhibur dengan kehadirannya di sini. Walaupun cuma sebuah printed comic, but it gives happiness for me. Alhamdulillah. Mmm, dengan ini saya merekomendasikan bagi siapa saja yang butuh candaan ringan untuk membaca Komik Dari Twit-nya Raditya Dika. 😀

“Karena kegelisahan ada baiknya ditertawakan”. Happy Satnite, guys! 😀

Posted in Life, Place

English Camp SMP IT Al-Fikri Makassar & GAU ASE 2016

DSC_0049

Jadi ceritanya, pada tanggal 7 – 13 Februari 2016 kemarin, ada sebuah kegiatan English Camp SMP Islam Terpadu Yayasan Al-Fikri Makassar bekerja sama dengan GAU ASE (Global Action of Utility Achievement of Spiritual Enlightment) di Kelurahan Tompobalang dan Taman Prasejarah Leang-Leang, Bantimurung, Maros. Pesertanya berjumlah 27 orang yang terdiri dari 20 siswa dan 7 siswi. Didampingi oleh 2 guru pembina Al-Fikri (Ustadz Irham dan Ustadzah Kurnia) dan 4 tutor bahasa Inggris (Kk Arni, Kak Asdar, Kak Sahlim dan saya, Nining Syafitri). Kalau bisa dibilang, this is my first time to be a tutor in English Camp. Yaa, Alhamdulillah, hitung-hitung dapat kesempatan untuk menambah pengalaman mengajar.

Acara Pembukaan English Camp di Taman Leang-Leang
Acara Pembukaan English Camp di Taman Leang-Leang

Pembukaan berlangsung pada tanggal 7 Februari 2016 dihadiri oleh para siswa, orang tua murid, para guru SMP Al-Fikri, tutor, Kepala Sekolah SMP Al-Fikri; Bapak Ahmad M. Abdullah, S.Ag., M.I.Kom, dan Direktur GAU ASE sebagai Penyelanggara Kampung Bahasa Bantimurung, Bapak Andi Samsurijal, S.S., M.Hum di Taman Prasejarah Leang-Leang. Sedangkan Kegiatan Penutupan diadakan pada tanggal 13 Februari 2016 di pondokan Kel. Tampobalang dan dihadiri oleh para siswa, pemilik pondokan; Bapak H. Lahab, para guru Pembina dan para tutor.

Foto Bersama bersama H. Lahab dan Nyonya
Foto Bersama bersama H. Lahab dan Nyonya

Dalam acara penutupan, baik Pak H. Lahab ataupun guru Pembina memberikan sepatah dua kata tentang kegiatan English Camp tersebut dan tidak lupa juga nasehat untuk para siswa agar tetap menjadi yang baik sesuai jalan Allah. Saya masih ingat salah satu nasehat yang dikatakan Pak H. Lahab untuk para siswa, “Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk.” Harus rendah hati. Tidak boleh sombong. Pepatah tentang padi yang umum terdengar, namun saya baru melihat dari dekat  dan langsung bagaimana padi itu merunduk. Hehehe.

"Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk"
“Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk”

Selain itu, Ustadz Irham di akhir acara penutupan sebelum sesi foto bersama dan ramah tamah dengan Bapak dan Ny. H. Lahab, ada pembacaan juara masing-masing kategori, yaitu the highest score, the most favorite, the most diligent, the funniest, the most active and the most excited.

Aktifitas kami
Aktifitas kami

Oh ya, kegiatan kami setiap pagi adalah berolahraga, makan pagi, kemudian berjalan dari pondokan menuju Taman Prasejarah Leang-Leang untuk belajar di sana. Jaraknya lumayan jauh. Tapi, hal itu menyenangkan karena di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang alami sekali. Hijau semua. Disarankan sih harus ada fasilitas yang memadai, seperti penyewaan sepeda. Sehingga para murid tidak harus berjalan kaki terus-menerus.

Belajar sambil Bermain
Belajar sambil Bermain

Alhamdulillah. Di taman tersebut, kami menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain. Syukurnya adalah terdapat sebuah masjid di depan taman tersebut, jadi para siswa, guru dan tutor dapat shalat di mesjid tersebut. Kemudian melanjutkan aktifitas hingga sore hari menjelang shalat Ashar. Malamnya selepas Maghrib, mereka melakukan Muroja’a (menghafal hafalan Al-Qur’an yang telah dihafal). Hari pertama bersama mereka, saya pribadi WOW WOW dengar mereka melakukan muroja’a. Masih SMP, sudah jadi penghafal Al-Qur’an. Apa kabarnya saya? Jadi malu sendiri. Mereka hebat-hebat. Dilanjutkan makan malam dan shalat Isya, kemudian learning English together. Setelah itu, it’s time to take a rest.

English Survival
English Survival

Selain belajar seperti biasa, di English Camp ini diadakan kegiatan English Survival di Taman Prasejarah Leang-Leang. Di mana kegiatan ini seperti melakukan suatu perjalanan dari pos ke pos, dari pos 1 hingga pos 4 dengan syarat harus mendapatkan pita dari masing-masing pos. Caranya adalah dengan menjawab pertanyaan berbahasa Inggris dari masing-masing penjaga pos.

Mr. Abdi dan Mr. Hamka
Mr. Abdi dan Mr. Hamka

Lanjut, hari-hari berikutnya kami mendatangkan tamu pengajar, seperti native speaker berkebangsaan Amerika, yaitu Mr. Abdi. Beliau menetap di Makassar dan memiliki sebuah kafe, Be Smart Coffee, di mana kafe tersebut dijadikan tempat belajar Bahasa Inggris bagi para pengunjung yang ingin belajar bahasa Inggris. Di hari itu, para siswa akhirnya dapat berinteraksi langsung dengan native speaker, melalui diskusi dan permainan. Kemudian, Mr. Hamka. Seorang mahasiswa pascasarjana Unhas program studi Bahasa Inggris yang telah memiliki pengalaman ke luar negeri dan terkenal dengan aksen Britishnya. Mr. Hamka selain mengajar, dia juga memberikan permainan kepada para siswa dan berhasil mengundang tawa di antara kami. Whispering Game adalah salah satu permainan yang paling seru dan buat tertawa terbahak-bahak. This is because of Hasan. Hasann, you are the most favorite student.

Jika waktu menjelang sore, sepulang dari taman, para siswa biasanya langsung pergi ke sungai dekat pondokan. Entah itu karena mau berenang ataupun mencuci di sungai.

Bersama para generasi penerus bangsa yang hebat
Bersama para generasi penerus bangsa yang hebat

Semakin lama, semakin banyak hal menyenangkan yang saya peroleh. Terutama mengamati tingkah laku masing-masing siswa yang notabenenya adalah masih berstatus SMP. Mereka memiliki karakteristik masing-masing. Saya malah anggap mereka seperti teman. Lagian juga, tinggi mereka dan saya tidak jauh-jauh amat, malah tinggian mereka. LOL. 😀 Pada hari pertama Camp, saya secara pribadi merasa terbebani mental. Hampir menyerah. Hehehe. Bukan karena anak-anaknya tidak sopan, not. Tapi lebih ke cara saya dalam mendekati mereka. Memang beda ya pendekatan ke pembelajar dewasa dan pembelajar yang muda seperti ini. Sebagai guru, harus memiliki pendekatan personal dan beragam cara agar pembelajaran terasa menyenangkan. Namun, semakin hari, saya berusaha bertahan dan mencoba berbaur dengan mereka, dan alhamdulillah saya dapat berkomunikasi dengan baik bersama mereka. Jadi serasa anak SMP lagi begitu. 😀  Hal ini mengingatkan saya pada tahun 2010 kemarin, ketika pertama kalinya menjadi seorang guide untuk mahasiswa Korea. Dumbatznya dapat banget. 😀 Tapi, pada akhirnya tugas yang diemban juga dapat diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah. Yaa, memang semuanya cuma butuh waktu saja.

Setiap sesuatu itu ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti halnya di English Camp ini. Internet and mobile network is not good. Susah dapat jaringan e. Harus ke luar rumah dulu baru dapat sinyal bagus. Tapi, tidak masalah untuk saya. Tidak eksis di dunia maya selama seminggu kemarin, cukup melatih diri untuk melupakan yang namanya medsos. 😀 Overall, di tempat kami mengadakan English Camp ini dapat dijadikan salah satu rekomendasi tempat yang nyaman untuk menikmati suasana pedesaan yang sudah jarang dirasakan (menurut saya). Tempat yang cocok untuk mengungsikan diri dari ramai dan sibuknya suasana Kota Makassar.

Di akhir kegiatan, kami meminta para siswa untuk menulis kesan dan pesannya tentang kegiatan ini dan Alhamdulillah sebagian besar mengatakan mereka ingin English Camp dilanjutkan lagi tahun depan dan diperpanjang waktunya. Alhamdulillah kalau respon mereka bagus berkaitan dengan kegiatan ini. Mudah-mudahan tahun depan saya dapat berpartisipasilah. Terima kasih buat Ketua Panitia, Kak Arni dan Sekretaris, Kak Asdar, yang telah melibatkan saya dalam kegiatan yang berkesan ini.

Left2right: Kk Arni, Ustadzah Kurnia, Ning, Ny.H. Lahab, H. Lahab, Kk Asdar, Kk Sahlim dan Ustadz Irham
Left2right: Kk Arni, Ustadzah Kurnia, Ning, Ny.H. Lahab, H. Lahab, Kk Asdar, Kk Sahlim dan Ustadz Irham

Yah, sampai di sini dulu cerita singkat saya selama seminggu di Leang-Leang. No signal, but interesting. Thank you, English Camp. You make me be more experienced English educator.

Belajar bersama Ustadzah Arni
Belajar bersama Ustadzah Arni

 

Posted in Friend, Life, Love, Place

Cerita Pagi di Kampus Merah

Terbesit keinginan untuk menikmati pagi di kampus merah ini. Tidak sendiri, namun bersama teman sedaerah yang sedang melanjutkan studi juga di kampus yang sama namun berbeda program studi. Sebut saja namanya Nova. 😀 Kami berjalan menyusuri jalanan yang dijejeri pepohonan rindang. Tidak berlari, namun berjalan.

12669489_10204392466046312_6729171954049293022_nBerjalan sambil bercerita tentang jalan kehidupan masing-masing. Kami memiliki cerita yang beragam. Mulai dari kehidupan keluarga, pendidikan, hingga asmara. Ya, topik-topik tersebut mendominasi pagi ini. Alasannya adalah karena mereka memang menarik untuk dibahas.

Tentang keluarga, bagaimana berbedanya karakter dan fisik kami sebagai anak pertama di antara para adik. Salah satu cerita yang kami angkat tadi adalah bagaimana saya di antara saudara-saudara yang lain. Ya, saya memiliki dua saudara kandung. Di antara kami bertiga, saya adalah anak perempuan yang tingginya paling semampai, semeter tak sampai. 😀 Sedangkan, anak kedua dan ketiga, untuk modal tinggi itu, cukuplah. Saya juga heran mengapa cuma saya yang kecil di antara mereka-mereka yang cukup tinggi. ‘Tiny banget’. Walaupun demikian, saya bersyukur. Tetap toh, harus bersyukur. 🙂 Hehehe.  Nova dan saya saling berbagi untuk cerita-cerita seperti itu dan jarang untuk tidak menertawainya bersama.

Berbicara tentang pendidikan. Pendidikan yang kami tempuh untuk mencapai di titik S2 ini adalah hasil jalan hidup kami yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Dengan biaya sendiri alias dari orang tua, kami toh sampai juga di tahap akhir semester. Kami sempat berharap akan ada beasiswa setelah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana di kampus ini. Namun Allah masih belum memberikan rezeki itu walaupun kemarin kami sempat mengikuti proses penyeleksian beasiswa, seperti Tanoto dan Bakrie. Alhasil, kami belum berhasil. Secara pribadi, saya sempat kecewa mengapa beasiswa bukanlah salah satu rezeki yang saya miliki. Namun, saya tetap menyadari bahwa Allah pasti tahu yang terbaik untuk saya. Dan hasil perbincangan bersama Nova tadi, ceritanya semakin menegaskan saya bahwa memang Allah itu Maha Adil. Nova bercerita bahwa mungkin Allah tidak memberikan beasiswa kepada kami, namun Dia memberikan rezeki itu lewat orang tua. Mengapa? Agar kami selalu mengingat bahwa melanjutkan sekolah ini karena pengorbanan orang tua. Hingga akhirnya, jika sukses nanti, kami tidak akan meremehkan orang tua, tidak merasa bahwa kesuksesan itu milik pribadi sendiri karena kami sendiri yang berusaha. Sempat teringat apa yang dikatakan ayah (Pak Chay) sebelum kami menginjakkan kaki di kampus ini. Beliau sempat memberikan petuah pada kami. Kira-kira seperti ini, jika Allah telah mengizinkan kalian untuk melanjutkan sekolah. Percayalah, jalan itu akan selalu ada. Dan iya, terbukti sekarang. Rezeki alhamdulillah ada. Yaa, rezeki datangnya kapan dan di mana saja. Dan jalan untuk mencapai tujuan kami berada di kampus ini sedikit lagi tercapai. Butuh doa dan usaha lebih lagi. Semoga semuanya berhasil. Aamiin yaa rabbal alamiin. Sempat tidak menyangka juga bahwa dengan keadaan yang seperti ini, kami bisa juga melewati semuanya satu per satu, tahap per tahap.

Di dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya. (Walaupun hanya lewat tulisan). Terima kasih karena sudah mengikhlaskan anakmu untuk sekolah walaupun banyak pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai cita-citanya. “Tidak mungkin juga kami membiarkan kalian hanya melihat teman-teman lain lanjut di kala kalian juga ingin lanjut. Toh juga kalian kalau belajar pasti membawa hasil. Yang penting kalian jadi anak penurut itu saja sudah cukup bagi kami,” kata papa via telepon sore tadi. Papa ee, bisa saja berkata-kata. Jadinya nangis kan nih.

Last but not least. Kami percaya Allah telah memberikan jalan untuk jodoh kami masing-masing. Kami hanya harus memperbaiki diri lagi menjadi lebih baik. Memantaskan diri agar menjadi pantas memiliki jodoh yang telah diridhai oleh Allah. *Kalau masalah ini, tidak perlu dibahas banyak ya. Cukup tahu saja bahwa hal ini adalah lumrah di saat kami menginjak usia 20-an.

Pagi memang selalu memberikan warna tersendiri.
Untuk hidup yang lebih baik.
Optimislah, Ning!
Usahakan selalu berada di jalanNya.
Karena Allah selalu berada di sampingmu. 🙂
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

 

Posted in English, Place

Negeri Van Oranje and Lopi Cafe

On January 26, 2016, my cousin, Fitri, and I went to walk around again after doing something that must be done for the sake of the family interest. 😀 Our destination was Panakkukang Mall (MP) and Lopi Cafe. Firstly, we visited MP for walking around and seeing female stuffs, like shoes, clothes, dress, etc. And you know what I felt, I just tried to control my self. 😀 Although it was interesting, but it was not still my main attention.

Negeri Van Oranje

S__2088966We tried to go to Cinema 21 Panakkukang to see what movies that still in “NOW PLAYING”. I looked there was still “Negeri Van Oranje.” Thanks God, it was still playing. So, I invited Fitri to watch that film. I liked the actors, such as Chicco Jerikho, Arifin Putra and Abimana Arisatya. But, Ge Pamungkas, he is not a cool guy because I already knew him as a comedian. 😀 If I am asked to comment this film, I will say that this film makes me ‘BAPER’ and gloomy. Hmmm… A man that always hides from Lintang, finally he could get married with her. >.< I could say that the film was romantic and entertaining. 🙂

Next plan was we went to Lopi Cafe, Cafe and Eatery. It is near MP. It is located in Jl. Boulevard No. 26 AB. Most of materials such as tables, chairs, and ornaments were made by wood. I think the cafe mixes between modern and traditional culture. It could be seen from one of wall sides, the wall was painted a couple who wore traditional clothes of Makassar and another side it was fulfilled by modern ornaments, like unique mirrors. It was full of music and AC. So, I felt comfortable to be in the cafe. I enjoyed it. 🙂

5906

5905Oh ya, there were many kinds of foods and drinks. But we only ordered French Fries, Hot Cappucino, and Milkshake Vanilla. Mmm, they had nice taste.

Basically, I rarely hung out with friends in places like this because my assignments of study spent my time a lot. Therefore, I did not know well which interesting places to visit in Makassar. Fitri was a person who recommended me for trying to go to Lopi Cafe and her recommendation was a good place.

Overall, what we did yesterday, it made me more aware that it inspired me to design something that will be done someday. Aameen. 🙂

5904

5903

Posted in English, Place

Pungopang Makassar

Pungopang is one of places to enjoy Korean desserts and unique ice creams. It is a Korean Cafe. It was my first time to go there because my cousin, Fitri, invited me to go there on January 22, 2016. Actually, Pungopang are also in Jakarta. Here, Pungopang is located in Jalan Pengayoman No. 11D, Makassar. It has e-mail address, pungopangmks@gmail.com and IG: pungopangMKS.

Here we are...
Here we are…
Parfait Dark Choco
Parfait Dark Choco

The first impression when I entered the cafe, it was so cozy. 🙂 We were welcomed by its waitresses and they said “Annyeong Haseyo”. I felt it was funny. Yah, after we chose where we wanted to sit that had an electric plug, a waitress came to us to give a menu. It has many choices of unique ice cream and desserts, but I just chose one of ice creams, it was a Parfait Dark Choco (IDR 30K) and Fitri, CI Green Tea (IDR 45K).

CI Green Tea
CI Green Tea

FYI, there were many people to come there and I looked they got enjoyment from its services by enjoying their orders. I am so sorry for this time because I do not have a complete information about the menu, but if you want to search more, you can visit its IG. 😉 And you can try to taste them there.

“A PUNGOPANG can satisfy your day”
That’s one of slogans on the wall in Pungopang.
And it is TRUE.
Alhamdulillah. 🙂

1453457794512

Posted in English, Friend, Love

This is for you, Mey :)

Happy Birthday, Mey
Happy Birthday, Mey
Happy Birthday, Happy Birthday
Happy Birthday, Mey

On May 20, 2015, you’re 24 years old now.
Grow to be a beautiful woman and one of our best friends who can make us laughed, annoyed, and sad.

This video is a special gift for you.
Kiky, Mega and I tried to make it priceless.
Thank you for Arini who has helped us to make this video.

Be happy for today, Mey.

https://www.youtube.com/watch?v=t_2jU48jNkk