Posted in Blog, English, Uncategorized

BIOGRAPHY of Raditya Dika ^^

RADITYA DIKA

 

 

 

Raditya Dika

 

 

 

Raditya Dika Nasution is an Indonesian writer, a comedian, and a script writer of comic or film. Raditya Dika is always called Raditya or Radith. He was born on Desember 28, 1984. Raditya Dika is known as the author of humorous books and then Raditya is known by public after his first book, Kambing Jantan (Gagasmedia, 2005).  The book is the result of adaptation of his old blog at www.kambingjantan.com. With having a comedy writing style and a candid story, Kambing Jantan was success and became a bestseller book.

Works

The first work that elevates his name is the book, Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh ( 2005 ). This book tells the life of Radith while still studying in Adelaide, Australia. The story of Radith is based on his stories as an Indonesian student that studied abroad. The book is presented in diary format (diary). The whole story in his work is based on his personal blog, www.kambingjantan.com, which now becomes www.radityadika.com.

 

Second book entitles Cinta Brontosaurus , it is published in 2006. Similar to the previous book, the stories in this book is based on the everyday story of Radith. However, this second book uses a short story format, that tells about experience of love of Radith that seemed not always lucky. The contents of this book include the story of when Radith sent a love letter to a friend when he was in elementary school to experience of Radith that watched his Persian cat that fell in love with another cat in its neighbor.

Third book entitles Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa that issued on August 29, 2007. This third book tells Radith who had been a clown of Monas in a day, teaching and tutoring, then when Radith was taken for a ghost of toilet, until the story about the curse of NTB people.

Fourth book entitles  Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang. That is published in April 2008. At the end of 2008, along with a comic artist, Rudiman Dio, Radith wrote a comic, Kambing Jantan, part 1, (Gagasmedia, 2008) and Kambing Jantan, part 2, (2011). This comic contains his life overseas as a student in Adelaide, Australia.

And fifth book entitles Marmut Merah Jambu in 2010. Most theme of Raditya Dika comedy revolves between his personal life, his family, with a hyperbolic style – self depreciating humor that it degrades himself.

Last Project of Raditya is a film that lifted from his first book, Kambing Jantan: The Movie, who directed by Rudi Soedjarwo. Besides writing the script with Salman Aristo and Mouly Surya, in that the film, he also played himself. The film is scheduled to appear March 5, 2009.

Journey and Thought

Radith started the desire to record his diary in the blog when he won the Indonesian Blog Award. Radith also won in the award titled The Online Inspiring Award 2009 from Indosat. From that experiences, he printed (print out) of his writings in his blog and then he offered the printed manuscript to several publishers to be printed as a book. At first, many refused, but then when he came to Gagasmedia, a book publisher, the manuscript was accepted, although they had a presentation in advance.

Radit successfully becomes a writer because he stepped out of the mainstream. He appeared with a fresh new genre. What makes it is different from other writers is the idea of the name of the books is the name of animals that always he uses in his books. From the first book until recently, all the titles contain the name of the animal. For Radith, this is his selling point.

For Radith, as the writer, we have to have innovation. In fact, in the first few months, his first book was not too sold out. According Radith, this is the risk of entry in the new genre. Radith promoted the book by the blog that he managed later aggressively. He was also vigorous doing by word of mouth. Radith asked readers to take pictures with his first book, then sent to Radith. By this, it can be a marketing strategy that can manage the reader as the target market. According Radith, in writing, after the book was published, it doesn’t indicate that complete affairs. Later, marketing submitted to the publisher.

Instead, the writer should also be a marketer for his own book because the author is actually also an artist. A creative writer will make his book as a product which for him must be sold out in the market. Although in essence the book is not commercial item, but regard the book as a product that contains knowledge that is marketed. That is a thing that needs to be done at this time.

Being a successful writer does not mean there are no barriers. According Radith, the barrier is not only from the book industry, but also from things that are diagonal. That is, opponents of the book industry may not be another book industry, but the others industries that are not related at all, such as entertainment, food, and others. For example, if there is young person has 50.000 rupiahs, yet he would spend it for buying books. It could be used for watching movies in movie theater or buying fast food. And clearly, the book is not the primary choice.

For Radith, this is already common. All we need now are we must do creative something and act creatively . For him, the competition that exists is the key to have innovation.  The pressure of competitors may be the motivation to continue to provide new ideas and explore new capabilities.

Now, Radith is still continuing his study at the extension program of Faculty of Social and Political Sciences at the University of Indonesia. Radith is also a host in Provocative Proactive program, Metro TV. In addition, he is a director and a chief editor in a book publishing, Bukune.

The Books and the Comics

  1. (2005) – Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh.
  2. (2006) – Cinta Brontosaurus.
  3. (2007) – Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa.
  4. (2008) – Babi Ngesot.
  5. (2008) – Komik Kambing Jantan.
  6. (2010) – Marmut Merah Jambu.
  7. (2011) – Komik Kambing Jantan 2.
Books and Comics

 

Filmography

–       Cast                                    : Kambing Jantan: The Movie (2009).

–       Scenario Writer         : Maling Kutang (2009)

Filmography

Sources: Wikipedia and www.radityadika.com

*Kebetulan ini hari adalah hari ultah Raditya Dika. Ning ucapin Selamat ulang tahun buat Kk Dika. Semoga sukses selalu dalam karirnya dan tetap menciptakan karya-karya yang konyol, yang bisa buat tertawa ngakak sampe gak bisa napas *sadis. Hehehe…

Gud lak always, Kk Dika…

Posted in Uncategorized

Seimbangkan Kecerdasan Diri untuk Hidup Lebih Baik

Setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan sesempurna mungkin. Jadi, setiap manusia itu harus bersyukur atas apa yang telah diciptakan Allah untuknya. Begitu juga dengan kecerdasan yang kita miliki, tentunya dalam bidang akademik.

Kecerdasan yang kita miliki bukan menjadi jaminan bahwa kita akan selalu berada di posisi paling atas, bahwa kita akan menjadi orang yang ‘wah’ yang nantinya akan dianggap terhormat karena kecerdasan kita. Kecerdasan dalam hal itu akan lebih lengkap rasanya jika kita menyertakannya dengan kecerdasan emosional kita dalam bersikap. Misalnya seperti ini. Orang yang cerdas dalam akademik belum tentu cerdas dalam bersosialisasi. Contoh realnya yah, orang yang cerdas dalam hal akademik, terkadang merasa dirinya yang ‘lebih’ dari teman-temannya, sehingga dia dengan mudahnya menganggap remeh teman-teman yang ada di sekitarnya. Bisa saja dia menganggap teman-temannya itu tidak sebegitu penting dalam hidupnya. Dianggap ada, yah karena mau dimanfaatkan saja otak dan tenaga mereka. Dia mudah angkuh kepada orang-orang di sekitar. Menganggap dirinya selalu benar dan tidak menerima pendapat dari orang lain. Sikap-sikap seperti inilah yang mungkin muncul oleh orang yang merasa dirinya cerdas. Ning pernah mendengar, atau mungkin membaca, *lupa, statementnya seperti ini,

“orang yang mengakui dirinya pintar, sesungguhnya dia bukanlah orang yang terlalu pintar-pintar sekali.”

Statement itu mengingatkan saya kepada salah seorang teman translator Korean – Indonesian. Namanya Kk Randy, Randy Octamario. Pernah dia dibilangin seperti ini, “Wah, Randy nih hebat yah. Jago bahasa Inggrisnya.” Kira-kira seperti itu. Tau nggak apa yang Kk Randy bilang?, “Ah, nggak juga kok, pak. Pinteran juga Nining!.” *bukan ajang menarsiskan diri Ning yah. Tapi, seperti itulah Kk Randy bilang. Kk Randy mencoba untuk tidak menganggap dirinya seorang yang pintar. Padahal, Ning tahu Kk Randy itu hebat. 🙂 Bayangin aja, bisa kuliah di Korea Selatan, beasiswa lagi. Ckckck… Hebat. Hebat. Salut deh buat Kk Randy. Gud luck, Kk Randy.

Sebelum menclosing artikel Ning yang tidak jelas ini, Ning akan memuat deretan kalimat sederhana dari salah seorang sahabat Ning, Harnal. Bagi Ning, Harnal adalah teman sekaligus sahabat yang bisa diajak untuk curhat-curhatan. Harnal mampu menenangkan hati dan diri Ning ketika ada masalah yang sulit untuk diselesaikan. Harnal orangnya baik. Ning kira ketika berpisah dari teman-teman SMA, Ning tidak akan bisa menemukan teman sekaligus sahabat yang bisa diajak curhat seperti ketika SMA dulu. *kangen anak IPSA niyh. :'( Buat Harnal, terima kasih banyak atas kata-kata motivasinya selama ini. 🙂

“Kadang orang merasa bangga ketika dia dikatakan pintar dan hebat. Tapi, banggalah untuk menghargai kepintaran tersebut sebagai anugerah dari Sang Pencipta dan gunakanlah kepintaran itu untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya. Jangan sombong dan angkuh karena boleh jadi kepintaran yang kita miliki menjadi boomerang buat diri kita sendiri dan perlahan-lahan akan sirna karena satu per satu orang di sekeliling kita akan pergi menjauh termasuk orang yang kita sayangi. Tetaplah seperti padi.”

Dan terakhir, di dalam tulisan ini, tidak ada niat untuk menyinggung siapapun, melainkan tulisan ini cuma sekedar mengingatkan kita-kita saja kalau seumpama pernah ada sikap seperti itu dalam diri kita masing-masing. Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Amin… 🙂

Posted in Uncategorized

Untuk Mama

Tanggal 22 Desember

Hari Ibu.

Selamat Hari Ibu…!!!

Mama, selamat hari Ibu ya!

Maaf, kalo Ning gak bisa ngucapin secara langsung ke Mama.

Ning gak terbiasa menunjukkan sikap Ning ke Mama kalau Ning sayang sama Mama secara LIVE.

Ning gak terbiasa mencium pipi Mama.

Ning gak terbiasa bilang ke Mama, “Ning sayang sama Mama”.

Ning belum bisa melakukan seperti apa yang Rini dan Nala lakukan.

Maaf, Ma.

Maaf kalau selama ini Ning banyak sekali buat salah sama Mama.

Buat Mama jengkel sama Ning.

Buat Mama sedih.

Buat Mama ngomel-ngomel.

Padahal Mama udah banyak sekali berkorban buat Ning.

Entah sudah berapa banyak usaha Mama untuk membesarkan Ning dan mendidik Ning menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Mungkin itu karena faktor kebelumsadaran Ning

Sama tingkah laku Ning yang ternyata salah.

Yang ternyata gak baik.

Yang ternyata hanya bisa membuat Ning jadi orang gak baik.

Maaf sekali, Mama.

Ning belum bisa menjadi anak yang baik buat Mama.

Ning belum bisa menjadi anak perempuan Mama yang hebat.

Ning belum bisa berbuat banyak untuk Mama.

Dan Ning belum bisa membuat Mama tersenyum seutuhnya.

Dua puluh dua Desember.

Di rumah tidak ada yang special.

Dianggap hari yang biasa saja.

Banyak SMS tentang Hari Ibu yang nangkring di INBOX Ning.

Ucapannya banyak sekali.

Serasa ramai di dalam dunia perSMSan.

Tapi, di dunia nyata bersama Mama, tidak begitu dieluh-eluhkan bahwa Hari Ibu itu hari yang special.

Mama, sekali lagi Maaf.

Haa…

Biarkan ajalah.

Ning akan merayakan Hari Ibu untuk Mama lewat tulisan Ning ini.

Di dunia maya.

I love you, Mom.

Selamat Hari Ibu, Mama.

Ning janji akan buat Mama bangga punya anak seperti Ning.

Ning akan turuti semua apa yang Mama minta.

Karena Ning tahu, Mama pengertian.

Mama akan berikan yang terbaik buat Ning.

Love you forever, Mom.

Posted in Uncategorized

Having Fun with My Beloved Friends, Sarah and Rian ^^

Pantai Kamali in the Night

Jadi gini ceritanya, kapan lalu Rian janji mau ngajak jalan-jalan Ning, tapi gak sempat-sempat. Baru, tanggal 20 Desember kemarin janjinya Rian terealisasi. *enak.enak.enak. Hehehe… Kronologisnya kayak gini. *kayak tindakan kriminal aja. 😛

Rian katanya mau datang ke rumah jemput Ning jam 5 sore. Benar aja. Rian datangnya on time.:) dan syukuran Ning juga udah ready to go. Tapi, karena berhubung kita mau jemput Eyink sama Erin di pelabuhan dan kapalnya belon datang, terpaksa kita nunggu-nungguin di rumah Ning, dan kita pergi setelah Maghrib. Udah gitu, kita cabut. Ceritanya mau ke Pankam (Pantai Kamali) niyh. Motor disimpen di rumah tantenya Rian. Kita jalan kaki. 🙂 Dekat kok. Gak jauh-jauh amat dari Pankam. Trus, di jalan kita ketemu Eyink sama Hakim *pasangan TOP niyh. 🙂 Eyink baru datang dari Makasar karena Eyink kuliah di sana, sedangkan Hakim kuliahnya di sini (baca: Baubau). *cieee, Hakim jemput pacarnya e… (logat Baubau).

Next, kita lanjut jalan kakinya menuju Pankam. Di Pankam kita ngelihat barang-barang yang dijualin, mulai dari buku-buku sampai aksesoris-aksesoris. Ngeliat aja. Gak beli. Hehehe… Pas lagi asyik-asyiknya liatin barang-barang, Ning kaget. “Lho? Kenapa orang pada panikan niyh?” Ning heran. Ada apa? Ternyata, HUJAN. Ckckck… Ning sama Rian pada kaburrrr dan nyari tempat untuk berteduh. Pas ujannya udah pada reda-reda sedikit, kita lanjut jalan *gak tahu mau ke mana. Enjel. Hahha… Ya udah, kita pindah untuk berteduh, move to depannya Senopati. Nungguin Sarah yang dari warnet. Eh, pas kita mau jalan, kita ketemu Ilas. Ya udah, Ilasnya ngikutin kita, sambil nungguin Sarah, dia juga nunggu2in Sarah. Sempat bicara sedikit sih sama *kita. 😀 Beberapa menit kemudian, muncullah yang ditunggu-tunggu. Sarah…

Ya udah, langsung cari makan. Ilasnya udah pergi, katanya lagi ada urusan lain. 🙂 Kita makan bakso di Posal. 🙂 Huaaa. Udah lama gak makan di tempat ini. Untuk sekedar ditahu yah, dari Pantai Kamali ke Posal kan dekat. Bisa jalan kaki. Sekitar 10 meteranlah dari Pankam ke Posal. Bagaimana cara Rian dan Ning ke Posal? Tentunya gak jalan kaki. Kita naek bentor. Karena kenapa? Rian belum pernah nyobain naek bentor. Hahahaha… 😀 *maklum anak asrama. Piss Iyhan… Jangan marah nah… Becanda jiyh… Sa sayang ko kasian… :p

Bakso di Posal
Rian dan Ning. Yang foto Sarah. 🙂

Lanjut, kita ke O’Diva. Gila bangeeeettt… Kita cuma datang ngeliat-liat aja tanpa minjem kaset apapun. Nah lo! Parah banget… Hahaha… Malu-maluin… Ckckck… Setelah puas lihat film-film yang menggiurkan mata yang mau dipinjem, kita bertiga langsung cabut dari situ. Hadoooohhh… Ian, Sarah, Parah banget malam itu. Hmmmm…

Film-film yang membuatku 'lapar'

Sarah pun langsung balik. Sementara Rian sama Ning? JALAN KAKI. Motor ada di Gedung Pancasila (Rumah Tantenya Rian). Tapi, sebelum nyampe, kita beli martabak dan terang bulan dulu dong. Enaaaakkk…

Wah, ternyata Rian ngebeliin Ning Terang Bulan. Makasih, sayang!

Tapi, tau nggak, kita ke tempat ini dua kali lho. Ya udah, terpaksa jalan kaki lagi ke sini. Capek sih capek, tapi gak apa-apalah. Udah lama gak kayak begini sama sobat-sobatku… :'( Oh iya. Disela-sela nungguin martabak dan terang bulan, kita telpon Raghil. Kangen juga sama tuh anak. 🙂 Miss you, sob…

Kalo SMA, hmmm. Rajinnya jalan kaki sama-sama. Apalagi habis Olahraga sore, pasti jalan kaki sama-sama ke Pantai Kamali. Haaaa… Kangeeennn…

Selesai itu, Rian nganter Ning pulang ke rumah. Pas nyampe, deh. HUJAN. *Haduuuhhh. Rian gimana niyh? Hujan. Ya udah, nungguin berapa menit di rumah. Tapi hujannya gak reda-reda. Rian nekat. Pulang ke Kompi 725, yang jauhnya 13 km dengan cuaca yang gak begitu baik. Rian SMS pas udah tiba di rumahnya.

"Ning, sa di rumahmi."

Alhamdulillah. Selamat juga tuh anak. Gile benerrr, 20 menit udah nyampe di rumah… Ckckck…

“Pembalapnya IPSA memang niyh Wa Rian e…” (logat Baubau). Hehehe…

Haaa.. Pokoknya Thank you bangettt buat Rian sama Sarah untuk malam itu… n Ragil juga.

Mmuuuaacchh… Love you…

Posted in Uncategorized

City Tour at July 17, 2010 in Baubau

Sebetulnya kegiatan City Tour ini udah lama. Mungkin udah pada ‘basi’ ceritanya. Tapi, gimana yah, Ning kepingin mau masukin di blog. Soalnya kemarin-kemarin lagi gak punya waktu untuk merangkum semua perjalanan City Tour ini. So, kali ini Alhamdulillah Ning punya waktu, jadinya bisa deh… Coba dibaca yuk!

Tanggal 17 Juli 2010. Paper City Tour Itinerary udah ada di tangan Ning. Dan kali ini tujuan City Tour kita adalah ke Benteng Keraton Buton – Little Bali di Ngkaring-Ngkaring – Palabusa – Nirwana Beach. Baiklah, kita mulai saja perjalanan untuk City Tour hari itu.

Tiba di Benteng Keraton Buton. Kita berkumpul di Bukit Lele Mangura, yang merupakan tempat makam Sultan Murhum, Raja terakhir Kerajaan Buton dan Sultan I Kesultanan Buton. Dari sini, kita belum ke mana-mana soalnya lagi nungguin rombongan lain yang lagi dalam perjalanan. Sambil kita nungguin, kita foto-foto dulu. Narsis. Hehhe.

 

with SeungHoon, KangWon, YongJin and JaeJun
Ning sama teman-teman KNU

Beberapa menit kemudian, semua rombongan udah pada kumpul semua dan langsung aja perjalanan dimulai. Kita ke Batu Yi Gandangi. Batu ini terletak di sebelah timur dari Makam Sultan Murhum. Seperti yang dikutip dari Buku Panduan Pariwisata Kota Baubau, pada malam hari sebelum sultan Buton dilantik, Sara di Kesultanan Buton menyediakan air yang disimpan dalam ruas bambu yang disebut Tingko. Setelah itu dipukulkan gendang. Air tersebut dibiarkan bermalam di batu tersebut dan keesokan harinya dibawa ke istana untuk dijadikan air mandi bagi calon Sultan. Batu ini menggambarkan simbol kejantanan. Selain itu, batu Yi Gandangi diyakini masyarakat bahwa ketika kita berada di tanah Buton harus menyentuh batu ini karena jika tidak menyentuh batu ini, sama saja artinya kita tidak menginjakkan kaki di tanah Buton.

 

Di Batu Yi Gandangi

Dari situs Batu Yi Gandangi ini, kita menuju Mesjid Agung Keraton Buton. Mesjid ini dibangun pada awal abad ke-18, tahun 1712 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Durul Alam (La Ngkariyriy), Sultan Buton ke-19. Mesjid ini bertingkat 3 dengan ukuran 20,6 x 19, 40 m. Pintu mesjid ini berjumlah 12, anak tangganya berjumlah 19 dan tiang masjid ada 20 batang. Mesjid beserta kelengkapannya menurut paham orang Buton merupakan penjelmaan ide dan pemahaman tentang eksistensi manusia dan kemanusiaan. Continue reading “City Tour at July 17, 2010 in Baubau”

Posted in Uncategorized

City Tour at July 17, 2010 in Baubau

Sebetulnya kegiatan City Tour ini udah lama. Mungkin udah pada ‘basi’ ceritanya. Tapi, gimana yah, Ning kepingin mau masukin di blog. Soalnya kemarin-kemarin lagi gak punya waktu untuk merangkum semua perjalanan City Tour ini. So, kali ini Alhamdulillah Ning punya waktu, jadinya bisa deh… Coba dibaca yuk!

Tanggal 17 Juli 2010. Paper City Tour Itinerary udah ada di tangan Ning. Dan kali ini tujuan City Tour kita adalah ke Benteng Keraton Buton – Little Bali di Ngkaring-Ngkaring – Palabusa – Nirwana Beach. Baiklah, kita mulai saja perjalanan untuk City Tour hari itu.

Tiba di Benteng Keraton Buton. Kita berkumpul di Bukit Lele Mangura, yang merupakan tempat makam Sultan Murhum, Raja terakhir Kerajaan Buton dan Sultan I Kesultanan Buton. Dari sini, kita belum ke mana-mana soalnya lagi nungguin rombongan lain yang lagi dalam perjalanan. Sambil kita nungguin, kita foto-foto dulu. Narsis. Hehhe.

 

with SeungHoon, KangWon, YongJin and JaeJun
Ning sama teman-teman KNU

Beberapa menit kemudian, semua rombongan udah pada kumpul semua dan langsung aja perjalanan dimulai. Kita ke Batu Yi Gandangi. Batu ini terletak di sebelah timur dari Makam Sultan Murhum. Seperti yang dikutip dari Buku Panduan Pariwisata Kota Baubau, pada malam hari sebelum sultan Buton dilantik, Sara di Kesultanan Buton menyediakan air yang disimpan dalam ruas bambu yang disebut Tingko. Setelah itu dipukulkan gendang. Air tersebut dibiarkan bermalam di batu tersebut dan keesokan harinya dibawa ke istana untuk dijadikan air mandi bagi calon Sultan. Batu ini menggambarkan simbol kejantanan. Selain itu, batu Yi Gandangi diyakini masyarakat bahwa ketika kita berada di tanah Buton harus menyentuh batu ini karena jika tidak menyentuh batu ini, sama saja artinya kita tidak menginjakkan kaki di tanah Buton.

 

Di Batu Yi Gandangi

Dari situs Batu Yi Gandangi ini, kita menuju Mesjid Agung Keraton Buton. Mesjid ini dibangun pada awal abad ke-18, tahun 1712 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Durul Alam (La Ngkariyriy), Sultan Buton ke-19. Mesjid ini bertingkat 3 dengan ukuran 20,6 x 19, 40 m. Pintu mesjid ini berjumlah 12, anak tangganya berjumlah 19 dan tiang masjid ada 20 batang. Mesjid beserta kelengkapannya menurut paham orang Buton merupakan penjelmaan ide dan pemahaman tentang eksistensi manusia dan kemanusiaan. Continue reading “City Tour at July 17, 2010 in Baubau”

Posted in Uncategorized

Aristocrat Mask

Aristocrat Mask

Sewaktu Ning jadi translator untuk mahasiswa-mahasiswa Kyungpook National University (KNU), Korea pada bulan Juli kemarin (2010). Ning sempat dikasih kalung Aristocrat Mask sama Shubin. 🙂 Bukan cuma Ning yang dapat kalung kayak begituan lho. Tapi, anak-anak SMANSA Baubau juga. Gak semua siswa sih. Hanya beberapa saja karena berhasil menjawab pertanyaan ataupun tantangan game yang diberikan mahasiswa Korea tersebut. Kita di SMAN 1 ngajar selama 2 minggu. Udah ada artikel sebelumnya tentang info kedatangan Mahasiswa KNU ke Baubau, silahkan dibaca aja di sini dan ada juga ini.

Sekarang kita kembali topik yang sebenarnya. Jadi gini. Ning penasaran arti dari Aristocrat Mask yang ada di kalung itu. Setelah cari dan mencari sama Om Gugel, Ning susun, susun dan susun pernyataannya dan inilah arti dari Aristocrat Mask itu.

Gambar yang di atas itu namanya Yangban Tal (Topeng Bangsawan/Aristocrat Mask). Yangban Tal merupakan salah satu topeng dari 13 jenis topeng yang ada di Desa Hahoe, Korea Selatan. Perlu diketahui bahwa Hahoe Masks sendiri telah dijadikan sebagai National Treasure No. 121.

Penduduk desa Hahoe telah membuat topeng-topeng ini sejak 800 tahun yang lalu. Topeng-topeng ini digunakan untuk pertunjukan Mask Dance yang diyakini sebagai pencegahan terhadap penyakit. Festival Mask Dance sendiri diadakan setiap akhir bulan September tiap tahunnya di desa Hahoe.

Topeng Yangban Tal ini dipercayakan untuk mewakili nilai artistik yang paling tinggi dari Hahoe Mask. Topeng ini menggambarkan wajah manusia sebagai karakter yang gembira. Wajahnya yang lonjong dan memiliki senyum yang ekspresif memperlihatkan kemurahan hatinya dan kepuasan diri. Jika performer terlihat tegak, wajahnya nampak ceria dan tersenyum; jika performer terlihat menunduk, berarti ada kemarahan, ditandai dengan mulut yang tertutup.

Sumber:

www.hahoetal.com

http://asianhistory.about.com

Posted in Uncategorized

Perkembangan Peserta Didik “Hukum-Hukum Perkembangan Sosial, Moral, dan Sikap”

Pertanyaan dan Jawaban

*Diperuntukkan khusus anak kelas B UNIDAYAN Semester III yang memprogram Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. Di bawah ini sejumlah pertanyaan dan jawaban yang telah diajukan oleh teman-teman kelompok beberapa minggu lalu dan kami, kelompok VII PPD, mencoba untuk menjawabnya lewat blog ini. Cekidot.

Makalah PPD “Hukum-Hukum Perkembangan Sosial, Moral, dan Sikap”

Tindakan apa yang seharusnya dilakukan orang tua jika anaknya berkelakuan di luar batas kewajaran, walaupun sudah diperingati beberapa kali, tetapi tetap saja melakukannya?

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi tindakan anak/mendidik anak, yaitu:

Cara Konvensional dan Cara Modern.

–          Cara Konvensional adalah cara mendidik anak yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan aturan. Selalu menasehati anak jika berbuat salah. (Selalu menghardik anak jika melakukan perbuatan yang dianggap salah oleh orang tua. merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh orang tua jika sudah tidak ada cara lain yang ditempuh).

–          Cara modern adalah cara baru yang sekarang menjadi tren yaitu memberi kebebasan penuh ke anak. Cara kedua ini bisa dibilang menguasai kebanyakan seminar soal anak dalam satu dekade terakhir. Cara ini merupakan cara revolusioner yang memang menggebrak cara lama yang selama ini dipakai oleh orangtua. Namun tentu saja cara ini tidak sepenuhnya disetujui terutama oleh golongan terdahulu. Selain itu cara kedua ini juga belum terbukti karena hasil dari generasi ini baru bisa kita lihat mungkin 20 tahun ke depan. Tapi, bagaimanapun cara kedua ini adalah cara yang banyak digemari oleh orangtua sekarang ini karena dianggap sesuai dengan perkembangan jaman.

Identifikasi Diri

Mendidik anak tidak bisa kita samaratakan. Setiap anak mempunyai karakter bawaan yang tentu tidak bisa kita lupakan ketika mendidiknya. Untuk itulah, ada baiknya kita mendidik anak dengan didahului yang disebut “identifikasi diri” anak. Baru setelah itu kita akan tahu mana cara yang kita gunakan apakah itu cara konvensional atau cara baru.

Identifikasi diri pada dasarnya adalah mengenali anak dengan lebih dalam. Kita harus tahu betul lokasi karakter anak sebelum memberikan pengaruh kepada anak. Misalnya, dalam skala sangat pemalu sampai sangat sombong, di manakah titik karakter anak kita. Atau dalam skala sangat sangat pemaaf sampai sangat pemarah, di mana posisi anak kita. Dalam skala sangat pendiam sampai sangat jago membantah, di mana posisi anak kita.

Penerapan

Jika kita sudah mengenali anak kita, kita bisa menentukan metode yang akan kita pakai untuk anak kita. Misalnya, anak kita termasuk anak yang sangat pemalu, maka akan lebih baik jika kita gunakan cara kedua yaitu cara yang membebaskan anak kita untuk bereksplorasi. Dalam teori yang banyak berkembang, kita jangan sampai membatasi ketika dia akan melakukan sesuatu.

Namun seandainya anak kita terlalu pede (percaya diri) sehingga masuk kategori sombong, rasanya kita harus menerapkan cara pertama (konvensional) untuk mengendalikan potensi berlebih anak kita. Sombong bukan sesuatu yang baik untuk dikembangkan. Kendalikan… Dan cara konvensional menurut saya lebih tepat untuk kasus seperti ini.

Dan seandainya anak kita berada di titik tengah dari garis karakter yang kita buat, ya berarti kita harus menggunakan 2 metode dengan seimbang. Logika aturan konvensional dan juga logika baru harus kita gunakan bersama-sama.

Jangan sampai kita terjebak oleh salah satu metode yang akhirnya membuat anak kita menjadi tidak seimbang. Kita ingin anak kita menjadi anak pede, tapi jangan sampai kita menjadikan anak kita anak yang sombong. Kita ingin anak kita menjadi anak yang sabar, tapi jangan sampai membuat anak kita menjadi anak yang tidak berdaya menghadapi tekanan.

Gunakanlah selalu keseimbangan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi diri anak kita.

Proses identifikasi diri adalah mutlak kita lakukan untuk mengenali anak kita. Namun sayang, seringkali diskusi seperti ini agak sulit dilaksanakan. Jangankan mengidentifikasi diri anak, sedangkan identifikasi diri orangtua sendiri biasanya belum dilaksanakan. Kebanyakan orangtua juga belum sadar betul bagaimana sifat diri mereka sendiri.

Kita juga perlu tahu bahwa identifikasi diri kita sendiri sangatlah penting. Kita harus mengenali diri kita sendiri. Dengan begitu kita tahu bagaimana harus berbuat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai orangtua, kita harus bisa memiliki sifat perhatian terhadap anak, jika anak melakukan sesuatu hal yang positif maka harus diberikan reward, contohnya anak bisa mengerjakan PRnya dengan baik, maka orang tua memberikan sanjungan ataupun pujian terhadap anak, (pujian merupakan reward) dan jika melakukan sesuatu hal yang negatif, contohnya anak dengan sengaja berkata kasar/kotor, maka orang tua harus memberikan punishment yang dapat membuat jera anak agar tidak mengulanginya lagi. Continue reading “Perkembangan Peserta Didik “Hukum-Hukum Perkembangan Sosial, Moral, dan Sikap””

Posted in Uncategorized

Materi Kuliah Bahasa Indonesia, Part 3

BAB 2 MENULIS DAN PENALARAN

  1. Menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan/komunikasi dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya.
  2. Ada 4 unsur yang dibutuhkan dalam menulis, yakni: penulis – pesan/isi – alat/media (bahasa) – pembaca.
  3. Manfaat menulis, yakni : untuk peningkatan kecerdasan, pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, pengukuhan keberanian, mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
  4. Menulis sebagai proses memiliki tiga bagian, yakni: a) tahap prapenulisan, b) tahap penulisan, c) tahap pasca penulisan.
  5. Review yakni melihat atau memperbaiki kembali tulisan yang telah disusun. Lebih cenderung pada mengubah, mengurangi, menambah isi tulisan kita. Sedangkan Editting yakni memperbaiki unsur-unsur mekanik dalam sebuah tulisan, seperti tanda baca, ejaan, kosakata, dan sebagainya.
  6. Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti menuju pada suatu kesimpulan (Keraf, 1982; Moeliono; 1989). Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dan logis untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Posted in Uncategorized

Materi Kuliah Bahasa Indonesia, Part 3

BAB 2 MENULIS DAN PENALARAN

  1. Menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan/komunikasi dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya.
  2. Ada 4 unsur yang dibutuhkan dalam menulis, yakni: penulis – pesan/isi – alat/media (bahasa) – pembaca.
  3. Manfaat menulis, yakni : untuk peningkatan kecerdasan, pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, pengukuhan keberanian, mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
  4. Menulis sebagai proses memiliki tiga bagian, yakni: a) tahap prapenulisan, b) tahap penulisan, c) tahap pasca penulisan.
  5. Review yakni melihat atau memperbaiki kembali tulisan yang telah disusun. Lebih cenderung pada mengubah, mengurangi, menambah isi tulisan kita. Sedangkan Editting yakni memperbaiki unsur-unsur mekanik dalam sebuah tulisan, seperti tanda baca, ejaan, kosakata, dan sebagainya.
  6. Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti menuju pada suatu kesimpulan (Keraf, 1982; Moeliono; 1989). Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dan logis untuk memperoleh suatu kesimpulan.